Langsung ke konten utama

Biografi Czeslaw Milosz

Czeslaw Milosz terlahir dari sebuah pasangan bernama Weronika dan Aleksander Milosz pada tanggal 30 Juni 1911, di Szetejnie, Lithuania (kemudian dibawah kekuasaan pemerintah Tsar Rusia). Setelah pecahnya Perang Dunia I, Aleksander Milosz bergabung dalam pasukan Tsar, dan sebagai insinyur tempur ia membangun jembatan dan kubu pertahanan di garis depan daerah. Istri dan anaknya menemaninya dalam perjalanannya yang terus-menerus di daerah Rusia. Keluarganya tidak kembali ke Lithuania sampai 1918, dimana mereka menetap di Wilno (kemudian menjadi bagian dari Polandia; juga disebut Vilnius atau Vilna).

Milosz lulus dari sekolah tinggi pada tahun 1929, dan pada tahun 1930 puisi pertamanya dipublikasikan dalam Alma Mater Vilnenis, sebuah majalah kampus. Pada tahun 1931 ia mendirikan kelompok sastra avant-garde Polandia "Zagary"; koleksi pertama dari tulisan-tulisannya muncul pada tahun 1933. Tahun yang sama ia menjadi editor bersama sebuah Anthology Puisi Sosial. Pada 1934 ia memperoleh gelar sebagai Master Hukum dan bepergian ke Paris dalam sebuah program beasiswa dari Dana Kebudayaan Nasional. Pada tahun 1936 ia mulai bekerja sebagai programmer sastra untuk Radio Wilno. Dia dipecat karena pandangan berhaluan kiri tahun berikutnya dan, setelah perjalanan ke Italia, mengambil pekerjaan di Radio Polandia di Warsawa. Dia menghabiskan sebagian besar waktu Perang Dunia II di Warsawa yang diduduki Nazi bekerja pada sebuah koran bawah tanah.

Setelah perang, ia datang ke Amerika Serikat sebagai diplomat bagi pemerintah komunis Polandia, bekerja di konsulat pertama Polandia di New York, kemudian di Washington. Pada tahun 1950 ia dipindahkan ke Paris, dan tahun berikutnya ia meminta suaka politik dan permintaan itu dikabulkan oleh pemerintah Perancis. Ia menghabiskan sebagaian besar waktu berikutnya di Paris sebagai penulis lepas. Pada 1953 ia menerbitkan The Captive Mind, dan novelnya , The Seizure of Power, menerima the Prix Littéraire European from the Swiss Book Guild. Pada tahun 1960 ia pindah ke Amerika Serikat untuk menjadi dosen dalam sastra Polandia di University of California di Berkeley. Dia kemudian menjadi profesor bahasa Slavia dan sastra. Dia tidak mengunjungi Polandia lagi sampai dengan tahun 1981.

Pada tahun 1980, Milosz dianugerahi Hadiah Nobel untuk Sastra. Penghargaan lainnya termasuk penghargaan untuk terjemahan puisi dari PEN Polandia Center di Warsawa, Guggenheim Fellowship, dan Neustadt Prize untuk Sastra Internasional. Dia telah menulis hampir semua puisinya dalam bahasa Polandia asalnya, meskipun karyanya dilarang di Polandia sampai setelah ia memenangkan Hadiah Nobel. Dia juga menerjemahkan karya-karya penulis Polandia lainnya ke dalam bahasa Inggris, dan menterjemahkan karyanya sendiri bersama dengan penyair lain seperti Robert Hass dan Robert Pinsky. Terjemahan ke dalam bahasa Polandia termasuk bagian dari Alkitab (dari bahasa Ibrani dan Yunani) dan karya-karya dari Charles Baudelaire, TS Eliot, John Milton, William Shakespeare, Simone Weil, dan Walt Whitman. Dia meninggal pada 14 Agustus 2004.

(sumber: http://www.poets.org)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama. Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai. Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh. Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Andien Aisyah source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ== Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”. Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai. Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan. “Tiada lagi bayangan dirimu Yang s’lalu mencoba menahanku” Ada kelegaan di sana. Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu. Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan. “Bersama mentari, ku bernyanyi ...

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita Catatan Membaca "Ariel" karya Sylvia Plath "Puisi tidak meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta dibaca dengan sabar." Sylvia Plath Saya tidak tahu apakah pembacaan saya atas Ariel adalah pembacaan yang tepat. Mungkin tidak. Puisi besar tidak pernah tunduk pada satu tafsir. Ia terus membuka pintu-pintu baru setiap kali dibaca. Tulisan ini bukanlah usaha menjelaskan Sylvia Plath, melainkan catatan seorang pembaca yang perlahan diajak berjalan oleh sebuah puisi. Bagi saya, Ariel tidak dimulai sebagai puisi tentang kematian. Yang pertama kali saya lihat justru seorang perempuan yang berada di pedesaan Devon menjelang fajar. Dunia masih membeku dalam kegelapan. Perlahan langit mulai membiru, tetapi biru itu belum menjadi langit yang utuh. Ia masih seperti sesuatu yang tak berwujud, sesuatu yang ghaib, yang mengalir dari balik tor—bukit-bukit batu granit yang menjulang di kejauhan. Pada tiga baris pertama itu saya tidak ...