Langsung ke konten utama

Yang Jadul

 yang jadul

ada yang membuat saya khawatir ketika harus melewati jalanan itu. namun demikian ketika saldo e-tol tidak mencukupi sedangkan keluar masuk beberapa mart tidak ada yang tersedia untuk mengisinya, terpaksa saya keluar gerbang. menyusuri jalanan di jantung kota yang padat itu lalu tepat menyusuri jalanan  agak di pinggir kota yang membuat saya mulai deg-degan. 


melewati jalanan yang lumayan padat itu, berkendara dengan kendaraan yang diproduksi kira-kira lebih dari tiga puluh tahunan yang lalu selalu membuat ketir-ketir. jalanan yang ketika saya menoleh ke kiri atau ke kanan terdapat papan nama, baik papan yang bagus atau yang paling sederhana terbuat dari kayu seadanya bertuliskan "besi tua". 


hal itulah yang membuat saya, selain ketir-ketir, deg-degan juga selalu waspada jangan-jangan kendaraan saya tiba-tiba menjadi "auto-driving" mode on dan dengan sendirinya tiba-tiba langsung nyasar ke salah satu bangunan berpapan nama itu.


****

notes: gambar pendukung tidak terkait dengan isi cerita, hanya sebagai doa dan cita-cita he..he..


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...

The Wound of Sorrow

 the Wound of Sorrow                  by Zawawi In the Name of Yours I proposed to you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Fight for life Aren’t we Old friends Humming happily Since childhood Reaching for red and blue dragonflies Twisting flirtatiously in the thick grass Aren’t we A cheerful couple Combing along the edge of the river Admiring small shrimps Dancing on the white sand Aren’t we A naughty couple Splashing In shallow puddles Leftover from yesterday's heavy rain In your name I beg you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Seize life