Langsung ke konten utama

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Catatan Membaca "Ariel" karya Sylvia Plath


"Puisi tidak meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta dibaca dengan sabar."


Sylvia Plath


Saya tidak tahu apakah pembacaan saya atas Ariel adalah pembacaan yang tepat. Mungkin tidak. Puisi besar tidak pernah tunduk pada satu tafsir. Ia terus membuka pintu-pintu baru setiap kali dibaca. Tulisan ini bukanlah usaha menjelaskan Sylvia Plath, melainkan catatan seorang pembaca yang perlahan diajak berjalan oleh sebuah puisi.

Bagi saya, Ariel tidak dimulai sebagai puisi tentang kematian. Yang pertama kali saya lihat justru seorang perempuan yang berada di pedesaan Devon menjelang fajar. Dunia masih membeku dalam kegelapan. Perlahan langit mulai membiru, tetapi biru itu belum menjadi langit yang utuh. Ia masih seperti sesuatu yang tak berwujud, sesuatu yang ghaib, yang mengalir dari balik tor—bukit-bukit batu granit yang menjulang di kejauhan.

Pada tiga baris pertama itu saya tidak hanya melihat datangnya pagi. Saya merasa sedang menyaksikan saat ketika alam bawah sadar mulai bangun. Sebelum matahari benar-benar terbit, sebelum dunia kembali sibuk, ada sebuah ruang sunyi tempat kenangan, luka, harapan, dan kegelisahan perlahan menyeruak ke permukaan. Fajar, dalam pembacaan saya, bukan sekadar perubahan cahaya, melainkan saat ketika batin mulai berbicara.

Saya kemudian membayangkan Plath sedang menunggang kudanya, Ariel. Namun semakin jauh saya membaca, saya merasa bahwa pengalaman berkuda hanyalah titik berangkat. Perlahan-lahan kuda itu berubah menjadi metafora kehidupan itu sendiri.

Baris:

How one we grow

selalu menarik perhatian saya. Plath tidak menulis we become one. Ia memilih kata grow. Penyatuan itu bukan sesuatu yang terjadi seketika, melainkan sesuatu yang bertumbuh. Saya membayangkan hubungan antara penunggang dan kuda memang tidak lahir dalam satu hari. Ia dibangun melalui kepercayaan, keseimbangan, dan keberanian. Bukankah demikian pula hubungan manusia dengan kehidupannya sendiri? Kita tidak pernah benar-benar menguasai hidup; kita hanya perlahan belajar berjalan bersamanya.

Namun penyatuan itu segera disusul oleh kegagalan.

The brown arc

Of the neck I cannot catch.

Leher yang tak dapat diraih itu, bagi saya, bukan sekadar leher seekor kuda yang berlari terlalu cepat. Ia menjadi lambang kehidupan yang selalu bergerak sedikit lebih cepat daripada kemampuan manusia untuk memahaminya. Kita ikut bergerak, tetapi tidak pernah sepenuhnya mampu mengendalikan arah dan kecepatannya.

Pembacaan ini semakin menguat ketika Plath menulis:

Berries cast dark hooks.

Saya menemukan hubungan yang menarik antara kata catch dan hooks. Ketika manusia mengaku tidak mampu menangkap kehidupan, justru kehidupan menghadirkan kait-kait yang menangkap dirinya. Kaitan itu bisa berupa cinta, kehilangan, pengkhianatan, tanggung jawab, atau penderitaan. Kita tidak hanya menjalani hidup. Hidup juga mengait kita, membentuk kita, bahkan terkadang membelenggu kita.

Karena itu saya membaca baris:

Black sweet blood mouthfuls

bukan sekadar sebagai citraan tentang darah. Saya membacanya sebagai metafora tentang kehidupan yang harus ditelan. Kehidupan terasa manis sekaligus berdarah. Ada kebahagiaan, tetapi selalu disertai kemungkinan kehilangan. Ada cinta, tetapi juga luka. Kita terus menelan kehidupan, meskipun sering kali kehidupan itulah yang melukai kita.

Saya tidak membaca Ariel sebagai catatan tentang bunuh diri Sylvia Plath. Saya lebih memilih membacanya sebagai puisi tentang pergulatan manusia mengarungi kehidupan. Berkuda hanyalah bahasa pertama yang dipilih Plath untuk menceritakan sesuatu yang jauh lebih dalam. Perlahan-lahan kuda itu menghilang, dan yang tersisa adalah seorang manusia yang berusaha menyatu dengan hidupnya, namun pada saat yang sama menyadari bahwa hidup memiliki kekuatan untuk membawa, mengubah, dan menguasai dirinya.

Barangkali karena itu saya tidak lagi melihat Ariel sebagai kisah seorang penyair besar. Saya melihatnya sebagai kisah kita semua.

Bukankah setiap manusia pernah berada dalam kegelapan sebelum fajar?

Bukankah kita semua pernah mengejar sesuatu yang tak mampu kita raih?

Bukankah kita semua pernah merasa bahwa kehidupan bergerak lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya?

Mungkin itulah sebabnya puisi ini masih terus hidup hingga hari ini.

Dan mungkin pula, Ariel sedang mengingatkan kita bahwa sebelum cahaya benar-benar datang, ada saat ketika segala sesuatu yang selama ini kita sembunyikan akhirnya menemukan bahasa.

Saat fajar, alam bawah sadar mulai bercerita.

Catatan Penulis

Tulisan ini bukanlah kajian akademis terhadap Ariel, melainkan catatan seorang pembaca yang mencoba berdialog dengan puisi. Bisa jadi pembacaan ini keliru. Namun saya percaya bahwa setiap puisi besar memperoleh kehidupan baru setiap kali dibaca dengan jujur. Mungkin, pada akhirnya, puisi bukan hanya mengungkap siapa penyairnya, tetapi juga memperlihatkan siapa pembacanya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama. Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai. Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh. Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Andien Aisyah source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ== Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”. Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai. Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan. “Tiada lagi bayangan dirimu Yang s’lalu mencoba menahanku” Ada kelegaan di sana. Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu. Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan. “Bersama mentari, ku bernyanyi ...