Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama. Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai. Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh. Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Andien Aisyah source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ== Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”. Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai. Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan. “Tiada lagi bayangan dirimu Yang s’lalu mencoba menahanku” Ada kelegaan di sana. Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu. Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan. “Bersama mentari, ku bernyanyi ...
Ranggalaweku Mabok - tuk sebuah kota asal - duduk melingkar di tepitepi jalan, di tepitepi persimpangan dan di banyak sudut-sudut jalanan dalam dzikir sumpah serapah dengan bonjorbonjor sebagai kubah setelah ongkek berdiri menepi ”satu centhak lagi, Kang” pinta mereka dalam tawar tawa ya, satu centhak lagi akan mengantarmu pergi setelah berjam-jam dilingkaran sumpah serapah memasuki dunia mimpimimpi terbang tinggi dari bumi Ranggalawe tempat berpijak dan beranak-pinak lupakan, sepi penumpang sulitnya setoran lupakan saja, gagal panen musim kemarin dan kencang angin laut tepiskan tangkapan ya lupakan sejenak tunggakan beberapa bulan biaya pendidikan kanak-kanak juga lupakan centang perentang kekuasaan kemarin hari menghancurkan gedung-gedung kekuasaan, simbol-simbol kebusukan menyisakan nyeri di balik jeruji besi mari, mari pergi ke lain dunia penuh euforia dengan kuasa ada ditangan kita kita bangun rumah-rumah megah bermarmer mengkilat bertaman...