Monday, May 21, 2018

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?


Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?


Cerpen Hamsad Rangkuti




Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar.

“Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat.
“Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.”

Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermainkan ujung lengan bajunya. Dan tampak kalau dia telah berketetapan hati untuk mengambil sebuah keputusan yang nekat. Tiba-tibaa dia melepas sepatunya, menjulurkannya ke laut.

“Ini dari dia,” katanya dan melepas sepatu itu. Sepatu itu jatuh mendekati ombak, kuabadikan dalam kamera.

Kemudian dia meraba jari tangan kirinya. Di sana ada sebentuk cincin. Sinar matahari memantul mengantar kilaunya. Mata berliannya membiaskan sinar tajam. Dikeluarkannya cincin itu dari jari manisnya. Diulurkannya melampaui terali. Ombak yang liar menampar dinding kapal. Tangan yang menjulurkan cincin itu sangat mencemaskan.

“Ini dari dia,” katanya, dan melepas cincin itu.

“Semua yang ada padaku yang berasal darinya, akan kubuang ke laut. Sengaja hari ini kupakai semua yang pernah dia berikan kepadaku untuk kubuang satu per satu ke laut. Tak satu pun benda-benda itu kuizinkan melekat di tubuhku saat aku telah menjadi mayat di dasar laut. Biarkan aku tanpa bekas sedikit pun darinya. Inilah saat yang paling tepat membuang segalanya ke laut, dari atas kapal yang pernah membuat sejarah pertemuan kami.”

Wanita muda itu mulai melepas kancing-kancing bajunya, melepaskan pakaiannya, dan membuang satu per satu ke laut. Upacara pelepasan benda-benda yang melekat di tubuhnya dia akhiri dengan melepas bagian akhir tubuhnya, membuangnya ke laut.

“Apa pun yang berasal darinya, tidak boleh ada melekat pada jasadku, saat aku sudah menjadi mayat, di dasar laut. Biarkan laut membungkus jasadku seperti kain pembungkus mayat. Biarkan asin airnya menggarami tubuhku tanpa sehelai benang penyekat.”

Wanita yang telanjang itu mengangkat sebelah kakinya melampaui terali, bersiap-siap membuang dirinya ke laut. Kamera kubudikkan ke arahnya. Di dalam lensa terhampar pemandangan yang fantastis! Wanita muda, dalam ketelanjangannya, berdiri di tepi geladak dengan latar ombak dan burung camar. Sebuah pulau berbentuk bercak hitam di kejauhan samudra terlukis di sampingnya dalam bingkai lensa. Sebelum melompat, dia menoleh ke arahku. Seperti ada sesuatu yang terbersit di benaknya yang hendak ia sampaikan kepadaku, sebelum dia melompat mengakhiri ombak.

“Ternyata tidak segampang itu membuang segalanya,” katanya. “Ada sesuatu yang tak bisa dibuang begitu saja.” Dia diam sejenak, memandang bercak hitam kejauhan samudra. Dipandangnya lengkung langit agak lama, lalu bergumam: “Bekas bibirnya. Bekas bibirnya tak bisa kubuang begitu saja.” Dia berpaling ke arahku. Tatapannya lembut menyejukkan. Lama, dan agak lama mata itu memandang  dalam tatapan yang mengambang. “Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?” katanya dalam nada ragu.

Aku tersentak mendengar permintaan itu. Sangat mengejutkan, dan rasanya tak masuk akal diucapkan olehnya. Permintaan itu terasa dating dari orang yang sedang putus asa. Kucermati wajahnya dalam lenasa kamera yang mendekat. Pemulas bibir berwarna merah tembaga dengan sentuhan warna emas, memoles bibirnya, menyiratkan gaya aksi untuk kecantikan seulas bibir.

“Tidak akan aku biarkan bekas itu terbawa ke dasar laut. Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu? Tolonglah. Tolonglah aku melenyapkan segalanya.

Orang-orang yang terpaku di pintu lantai geladak berteriak kepadaku.

“Lakukan! Lakukan!”

Seseorang muncul di pintu lantai geladak membawa selimut terurai siap menutup tubuh wanita yang telanjang itu.

“Tolonglah. Tolonglah aku menghapus segalanya. Jangan biarkan bekas itu tetap melekat di bibirku dalam kematian di dasar laut. Tolonglah.”

“Lakukan! Lakukan!” teriak orang-orang yang menyaksikan dari pintu geladak.

Aku hampiri wanita itu. Orang yang membawa selimut itu berlari ke arah kami, menyelimuti kami dengan kain yang terurai itu. Di dalam selimut kucari daun telinga wanita itu.

“Masih adakah bekas darinya di bagian lain tubuhmu yang harus kuhapus dengan bibirku?” bisikku.

“Saya Chechen, Pak,” kata wanita itu memperkenalkan dirinya begitu aku selesai menyampaikan cerpen lisan itu dan berada kembali di antara penonton. “Saya menggemari cerpen-cerpen Bapak. Saya mahasiswi fakultas sastra semester tujuh. Saya senang sekali bisa bertemu dengan Bapak, pengarang dari cerpen-cerpen yang telah banyak say abaca.”

“Terima kasih. Namamu Chechen? Tidak nama seorang Minang.”

“Bagaimana kelanjutan cerpen lisan itu?”

“Kau yang harus melanjutkannya. Kalian. Para pendengarnya.”

Sejak itu kami akrab. Aku seperti muda kembali. Berdua ke mana-mana di dalam kampus Kayutanam maupun ke Danau Singkarak, Desa Belimbing, Batusangkar, Bukittinggi, Lembah Harau, Tabek Patah, Kota Gadang, Danau Maninjau, Ngalau Indah, Lubang Jepang,, Ngarai Sianok, Lembah Anai, dan Istana Pagaruyung.

Besok adalah hari terakhir aku di Kayutanam. Aku harus kembali ke kehidupan rutin di Jakarta. Perpisahan itu kami habiskan di kawasan wisata di luar kota Padangpanjang. Sebuah kawasan semacam taman, berisi rumah gadang dari berbagai daerah di Minangkabau. Kawasan itu bersebelahan dengan lokasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau. Tempat itu sejuk diliputi kabut, terkenal sebagai kota hujang. Sebentar-sebentar kabut tebal melintas menutup kawasan itu. Kami mencari tempat kosong di salah satu bangunan berbentuk paying dengan meja bulat dan kursi sandar melingkar, yang disediakan untuk para pengunjung duduk-duduk memandang sungai kecil berbatu yang terhampar di bawah dan memandang puncak Gunung Merapi. Kami berkeliling mencari tempat kosong, tetapi semua bangunan-bangunan kecil itu telah dihuni pasangan-pasangan remaja. Mereka duduk memandang lembah dan lereng gunung yang terus-menerus diselimuti kabut yang dating seperti asap hutan terbakar. Kami akhirnya duduk dihamparan rumput berbukit, di antara rumah gadang pajangan dalam ukuran yang sebenarnya.

“Selama lima hari, siang dan malam kita tak pernah berpisah. Malam kita duduk berdekatan di warung-warung membiarkan kopi dingin  sambil kita berpandangan. Aku mendengar proses kreatifmu sedang kau mendengarkan riwayat dan asal-usul tempat-tempat yang akan kita kunjungi besok pagi. Kita tidak menghiraukan mata-mata yang memandang kita. Kita biarkan percakapan-percakapan mereka tentang kita. Tanganku kaupegang dan aku merebahkan kepala ke bahumu dalam udara dingain kayutanam. Semua itu akan menjadi kenangan. Besok kau akan pulang dan aku akan kembali ke kampus.”

“Kita pergi ke Lubang Jepang. Masuk ke dalam kegelapan gua. Berdua kita di dalam tanpa seorang pengunjung pun mengawasi kita. Aku berbisik, seolah kita masuk ke dalam kamar pengantin dan kau meminta lampu dipadamkan. Kita duduk di puncak pendakian di Lembah Harau. Kita duduk berdua memandang ke bawah mengikuti arah air terjun. Lembah kita lihat dari ketinggian dan tempat itu sangat sunyi. Kita biarkan kera-kera mendekat dan kita tidak merasa terganggu. Kita biarkan pedagang kelapa muda itu meletakkan sebutir kelapa dengan dua penyedot di lubang tempurungnya. Kita tidak hiraukan di turun meninggalkan kita dan membiarkan kita berdua menikmati kelapa muda yang kaupesan. Kita benar-benar berdua di tempat sunyi itu. Kita menyedot air kelapa muda itu dengan dua alat sedotan dari lubang tempurung yang sama. Aku satu dan kau satu. Terkadang kening kita bersentuhan pada saat menyedot air kelapa muda itu. Kita pun lupa, mana milikku dan mana milikmu pada saat kita mengulang menyedot air kelapa muda itu. Kita sudah tidak menghiraukannya. Sesekali kedua pengisap air kelapa itu kita gunakan keduanya sekaligus, bergantian, sambil kau menatap tepat ke mataku dan aku menatap tepat ke matamu. Aku yakin, hal itu kita lakukan semacam isyarat yang tak berani kita ucapkan.

“Kelapa itu kita belah. Kau sebelah dan aku sebelah. Alangkah indahnya semua itu.”

“Kenangan itu akan kubawa pulang.”

“Maukah kau menghapus bekas bibirnya di bibirku dengan bibirmu?”

Aku mendekat kepadanya. Kabut tebal dating kepada kami. Begitu tebal kabut itu, seolah kami terbungkus di dalam selimut yang basah. Tak tampak sesuatu pun dalam jarak dua meter. Kelambu kabut itu menutup kami dari pandangan dunia. Kami berguling-guling di atas rumput daam kepompong kabut.

“Masih adakah bekas yang lain di bagian tubuhmu yang harus kuhapus dengan bagian tubuhku?” bisikku.

Dia menggeliat di dalam kabut. Dicarinya telingku.

“Tak ada bekas yang lain, yang peru dihapus, Sayang.” Bisiknya.

Serpihan kabut menyapu wajah kami bagaikan serbuk embun dipercikkan.

“Apakah kita akan keluar dari kepompong kabut ini sebagai sepasang kupu-kupu?”

“Bekas ini akan kubawa pulang dan akan ada yang menghapusnya. Bagaimana denganmu?”

“Akan kutunggu bekas yang baru di bekas yang lama, darimu.”

“Apakah itu mungkin?”

“Mungkin.”

“Aku lima empat dan kau dua-dua. Itu tidak mungkin.”

“Mungkin”
“Aku datuk maringgih dan kau Siti Nurbaya, dalam usia. Apa yang memaksamu?”

“Entahlah. Aku pun tak tahu.”

Kami turun dari puncak bukit itu berpegangan tangan. Dia memegang erat jari-jariku. Dan, aku memegang erat jari-jarinya. Seolah ada lem perekat di antara jari-jari kami.


Kayutanam 1997


Sumber tulisan: 
Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?, Diva Press, Cet. Pertama, Juni 2016

Wednesday, September 27, 2017

Pramoedya Ananta Toer, Dibalik Sebuah Nama Besar



Pramoedya Ananta Toer
Dibalik Sebuah Nama Besar


"anak-anak urusan ibunya 100%. Aku tak mau turut campur. Itu urusan mereka!"
(Pramoedya Ananta Toer)


            Selain Pramoedya, menurut Eka Budianta, yang memiliki prinsip hidup bahwa anak-anak adalah urusan ibunya, dan mereka tak peduli pada anak-anaknya adalah W.S. Rendra, dan Jasso Winarto (novelis yang menjadi ekonom pasar saham). Jasso bahkan secara tegas menyatakan anak-anak bisa tumbuh tanpa ayah.

            Di balik nama besar Pramoedya Ananta Toer, dia bukanlah seorang bapak yang sukses. Anak-anaknya jauh dengan Pram dan segan bertemu dengan ayahnya. Pram kecewa karena anak-anaknya tak suka membaca.

            Dibalik ketenaran namanya sebagai seorang sastrawan dunia, kerja kerasnya yang membabi buta, ketekunan, dan keuletannya masih diperlukan seorang istri Pram, Maemunah Thamrin (istri kedua Pram, setelah bercerai dengan Arvah Iljas, yang mendampingi Pram sampai akhir hayat) untuk bekerja mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sehari-hari. Pram hanya menerima uang beberapa kali dalam setahun. Sebuah ironi bukan? seorang dengan nama besar tak dapat merengkuh sisi lain yang dalam banyak anggapan orang barangkali hal itu sudah menjadi sebuah konsekuensi. Sudah otomatis. Nama besar dan financial besar. Namun nyatanya hal itu tidak liner. Sebuah ironi atau manusiawikah? Saya menjadi sedikit mengerti ketika membaca sebuah wawancara yang entah di media apa saya lupa (Matra?), Pramoedya berkata bahwa “ketenaran” adalah “kekosongan”. Saya waktu itu berpersepsi bahwa tak ada apa-apa dalam ketenaran dan nama besar barangkali ada derita di dalamnya, kehampaan. 

            Sebuah ironi lainnya sebagaimana dituturkan oleh Koesalah S. Toer, Pramoedya, yang dalam anggapan banyak pihak adalah seorang yang berhaluan kiri justru dapat mengangkat “ekonominya” ketika berada di sarang kapitalis. Pram mendapat undangan untuk menjadi pembicara di beberapa tempat di kampus-kampus  atau tempat lain di Amerika Serikat. Dari lawatannya itulah Pram mendapatkan fee yang cukup lumayan sehingga Pram bisa membangun sebuah rumah sesuai dengan angannya.. Rumah dengan luas pekarangan sehektar yang terletak di Bojong Gede, Bogor. Barangkali ironi merupakan bagian dari kehidupan setiap manusia yang harus dijalani dengan lapang hati.

Tuesday, September 26, 2017

Ciri-Ciri Satria Jawa









Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul



Panggilan Rasul

Oleh: Hamsad Rangkuti



MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.

          Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga teratak di depan rumah, belum hilang dalam masa sesingkat itu. Tetapi mereka bergegas bangun, ketika mendadak derum mobil terdengar memasuki pekarangan pada subuh itu. Mereka mengiringi langkah dokter naik tangga, dan sejurus kemudian terciptalah lingkaran di kamar depan.
          Pelaminan bertingkat tiga berbentuk merak terbang di awan, dibalut kain sutra kuning, hijau, berbunga-bunga kertas yang dilengketkan, sudah tidak lagi diacuhkan. Pelaminan itu sekarang terbenam dalam keheningan di mana orang-orang berkerumun membelakanginya; sudah tidak seperti sejak pesta itu dimulai. Padanya di saat-saat semeriah itu seluruh mata undangan tertuju. Dia seolah-oleh hendak menerbangkan anak sunattan itu dari mata banyak orang, di mana rambu-rambu terbuat dari benang sutra yang berjulaian di sekeliling kipas yang bundar melambai-lambai menepiskan angin.

          Adapun di luar, di meja-meja tetamu dalam teratak yang dihiasi rangkaian-rangkaian janur kuning dan kertas-kertas minyak berwarna merah-putih masih ada para kerja dalam pesta tadi malam melingkar kedinginan ditusuk angin pagi, tidak kuasa meninggalkan kantuk mereka. Di belakang rumah, arah ke pinggir sungai, orang-orang tua yang mungkin lebih cepat mengaso di malam yang dimeriahkan tiga macam permainan itu masing-masing saling memandang, menunggu kabar dari kamar depan. Mereka bergegas meniup api di tungku, memask air, dan memanaskan sisa-sisa makanan tadi malam untuk srapan buat seisi rumah.

          Ibu anak sunatan itu, dimanakah dia? Oh, ia terbenam di kamar sebelah. Ia tak sanggup melihat apa yagn sedang dialami anak lelakinya. Di pipinya mengalir dua tetes air mata. Dari mulutnya keluar kalimat-kalimat tersendat dalamisak yang pilu. Lalu, ayah anak itu? Di mana dia? O, dia juga terbenam di kamar yang sama di tempat istrinya melepas sedu-sedan. Suami istri itu dibalut kecemasan yang dalam. Keduanya sama mendoa, memohon berita yang baik datang dari kamar depan.

          Tiba-tiba saja mata mereka tertumbuk ke satu jurusan. Pada dinding kamar, di mana tergantung dua gambar besar. Kedua gambar besar itu diberi bingkai yang diukir dan dicat dengan warna kuning emas. Gambar itu maisng-masing menggambarkan sebuah pelaminan. Di tiap gambar tampak sepasang suami –istri itu berdiri mengapit seorang anak lelaki yang didudukkan di sana. Anak-anak laki itu masing-masing mengenakan pakaian upacara kebesasran. Di atas peci mereka disusun permata yang memancarkan cahaya gemerlap.

          Cermat sekali perempuan itu melangkah ke dinding. Gambar-gambar itu diturunkannya. Satu per satu ditatpnya erat-erat seolah tak pernah ia selama ini melihatnya. Lalu mata yang kemerah-merahan menahan tangis sejak pesta mulai sunyi, perlahan kelopaknya dirapatkan. Segumpal besar air mata bergulir di pipinya dan menitik menimpa kaca gambar itu. Perlahan sekali gambar itu ia balikkan. Karton ang berdebu diusapinya dengan ujung baju, samar-samar membayang sederet tulisan. Ia tampak seperti membaca tulisan itu: Kamaruddin, anak tertua, disunat rasul tanggal 6 Februari 1952. Meninggal dunia tanggal 6 Februari 1952.

          Karton yang sebuah lagi dibersihkannya pula dengan ujung jari-jarinya yang gemetar. Di antara bayang-bayang rambutnya yang terjulai menimpa karton gambar itu terbaca: Syaifuddin, anak kedua, disunat rasul tanggal 10 Novembe 1957. Meninggal dunia tanggal 11 November 1957.

          “Oh, masihkan akan ditulis juga kalimat-kalimat seperti ini, dibelakang foto anakku yang ke tiga nanti? Oh… Tuhanku,” keluh wanita itu di antara isakannya.

          “Oh Tuhan, cukuplah anak yang dua ini Kau ambil, ketika sedang kusucikan. Mengapa kau coba hamba-Mu seberat ini? Lanjutkan keturunan kami, ya Allah. Oh, anak-anakku yang malang… mengapa mesti mereka,  yang menanggung semua ini?”

          Wanita itu menatap lagi kedua gambar itu seperti tidak akan pernah lekang dari matanya yang basah. Kemudian ia menatap ke atas. Katanya, “Jikak putraku yang ini, Lasuddin, Kau selamatkan ya Tuhan, kami akan serahkan dua per tiga dari sawah-sawah itu buat mereka.”

          Pandangannya ia alihkan pelan-pelan ke tempat suaminya terbenam dalam titik-titik air mata.

          “Kau setuju nazarku, kan?”

          “Aku setuju. Nazarmu itu aku setujui. Kita akan bersedekah untuk itu secara besar-besaran. Dan panen tahun ini kita berikan separonya, buat mereka.”

          Kedua gambar di dekapan istrinya itu dia raih, dia perhatikan satu per satu lama sekali. Katanya kemudian, “Aku tidak pernah mengira, pelaminan-pelaminan ini mengantar mereka ke tempat kematian.”

          “Benar katamu, dokter ini seorang spesialis yang ahli?”

          “Kata orang, belum pernah dia menynat anak sampai mati.”

          “Aku masih saja kuatir. Ramalan dukun-dukun itu mulai lagi mengganggu pikiranku. Kau juga mulai diganggu ramalan mereka?”

          “Tidak. Kita tidak boleh terpengaruh oleh ramalan-ramalan. Kita harus berdoa semoga ramalan itu tidak akan menimpa Lasuddin.”

          “Aku masih ingat, mereka menyebarkan ke seluruh kampong ramalan-ramalan itu. Benarkah akan terjadi seperti yang mereka katakana, bahwa semua keturunan kita akan musnah di ujung pisau sunat? Yakinkah kau akan itu?”

          “Kita berserah saja, kepada-Nya. Doakanlah Lasuddin. Bukankah hal itu harus dilalui setiap pengikut Islam yang sejati?”

          Sang suami mendekati daun pintu. Dari celah-celah kain pintu dia hanya dapat melhat kepala-kepala yang bersusun mengarah ke satu jurusan. Dia julurkan kepalanya ketika dia lihat seorang laki-laki tua bergegas mendekat dari kamar depan.

          “Kenapa? Darahnya banyak keluar, ya? Dia tersirap.

          “Dokter baru menjepit kulit ujungnya. Aku tak sanggup melihatnya. Beda benar dengan cara dukun sunat. Tapi kau tak perlu kuatir, kuatkan hatimu. Bukankah katamu dia seorang yang ahli.”

          “Mengapa Lasuddin Abang tinggalkan?”

          “Aku tidak kuat melihatnya. Perutku tiba-tiba saja memulas saat dokter menjepit dan mengangkat pisau yang mengkilap, segera akan memotong kulit ujung itu. Aku mau ke jamban dulu.”

          Ayah anak suanatn itu melihat istrinya yang seperti tersungkur di depan dua gambar besar tadi. Ketika mata mereka saling bertumbuk, istrinya berkata pelan, “Sudah dipotong?”

          “Dokter sedang memotongnya. Doakanlah dia”

          Perempuan itu mengamati lagi kedua gambar itu, sastu daripadanya dia angkat hamper menyentuh ujung hidungnya. Katanya, “Aku masin ingat betapa banyak darah mending si Kamar keluar, tidak henti-hentinya, pagi itu. Darah itu seperti tidak mau berhenti mengucur. Apa Lasuddin akan sperti itu juga?”

          “Tidak. Mudah-mudahan tidak. Lasuddin anak penurut, tidak seperti abang-abangnya. Sungguh dia anak penurut. Aku masih ingat almarhum Kamaruddin, tidak mau dia mengindahkan kata-kataku. Jangan melompat-lompat dan banyak lari-larian, sehari sebelum disunat. Tapi ia tidak mengindahkannya. Terus saja berlarian bersama teman-temannya. Dia seperti lupa akan disunat esok paginya. Akibatnya darahnya turun. Dan dukun pun tak mampu mengatasi.”

          “Kalau begitu, mengapa Syaifuddin meninggal pada hari kedua, setelah dia disunat? Darah tak banyak keluar dari lukanya. Syaifuddin kan juga penurut. Pendiam. Setengah bulan, hamper, dia mengurung diri, karena kau ingatkan kelakuan abangnya sehari sebelum disunat itu. Aku tidak percaya! Aku tidak percaya, jika hanya oleh melompat-lompat dan berkejaran setengah malam penuh. Aku tidak percaya itu. Aku mulai yakin tentang desas-desus itu bahwa kau oran gyang tamak. Orang yang kikir. Penghisap. Lintah darat. Inilah ganjarannya! Aku mulai percaya desas-desus itu, tentang dukun-dukun yang mengilmui luka di kemaluan anak-anak kita. Aku mulai yakin bahwa itu karena kesombonganmu, kekikirannmu, angkuhmu, dan tak mau tahu dengan mereka. Aku yakin, mereka menaruh racun di pisau dukun-dukun itu.”

          “Kalau benar begitu, apa lagi yang sekarang mereka sakitkan hati? Aku telah lama mengubah sikapku. Tiap ada pertemuan desa, aku datang. Tiap kemalangan, aku datangi. Tiap derma, aku sumbang. Tiap kesusahan, aku tolong. Tidak seorang dari mereka yang tidak kuundang dalam pesta tadi malam. Kau lihat kan, tiga teratak itu penuh mereka banjiri. Aku yakin mereka telah menerimaku, memaafkan aku.”

          “Kau terlambat. Mengapa baru dalam bulan-bulan terakhir ini kau lakukan semua itu? Bagi mereka, mungkin itu belum ckup. Mereka minta lebih banyak, memusnahkan seluruh keturunan. Menginginkan kematian Lasuddin juga…. Oah, apakah anak yang tak bedosa itu akan mengulangi nasib abang-abangnya? Hanya buat menebus sikapmu yang kikir, tamak, lintah darat. Oh, malangnya. Kejam sekali dendam-dendam itu.”

          Perempuan itu terisak-isak. Badannya terbungkuk di mana mukanya terbenam di antara dua gambar anaknya.

          “Mudah-mudahan mereka tidak melakukan itu. Oh, Tuhanku, hanya dia yang kuharap melanjutkan keturunanku. Pewaris harta yang sebanyak ini.”

          Doa suami itu dilanjutkan oleh istrinya, “Mudah-mudahan. Kau Yang maha Pengasih. Yang Maha Kuasa, memperkenankan doa hamba-Mu ini.”

          Luka anak sunatan itu mulai dijahit. Tangan spesialis itu dengan cekatan luar biasa menukar silih berganti seluruh alat bedah yang dibawanya pagi itu. Ruangan itu senyap. Yang terdengar hanya detak alat penjepit jarm penjahit yang ditusukkan ke kulit ujung luka di antara selangak anak itu.

          Bisik-bisik dari mulut ke mulut orang sekampung, mulai ingin dibuktikan. Tiap orang sudah tahu, pagi itu pagi sunatannya anak yang ketiga dari seorang tuan tanah. Setiap pasang mata yang tak terbiasa bangun subuh buta, meninggalkan kebiasaan yang menyenangkan itu pada pagi itu. Dalam rumah, di dapur, di beranda, di pekarangan, orang sekampung membicarakan anak ketiga si Tuan Tanah. Apakah anak terakhir itu akan mengalami nasib yang sama, itualh yang akan dibuktikan. Tidak heran jika di pagi itu tampak orang-orang laki-perempuan dalam selubung kain sarung berlindung dari hawa dingin berbondong-bondong berdatangan ingin mengetahui kebolehan si dokter yang didatangkan khusus dari kota.

          Darah dari luka itu masih keluar menitik-nitik melalui untaian darah yang mengental. Kain penadahnya mulai lenyap dalam warna merah seluruh. Seluruh keluarga semakin gelisah. Di kepala mereka terbayang peristiwa yang dulu, dua peristiwa di tahun-tahun lalu.

          Keyakinan sudah begitu melekat di hati mereka tentang kematian satu rumpun anak orang kaya itu, di ujung pisau sunat, makin menebal ketika kain penadah darah diganti dengan kain yang baru.

          Di halaman, di bawah anak tangga, tetangga-tetangga terdekat maupun yang jauh-jauhsudah berdesakan dalam wajah penuh ingin tahu. Semuanya serasa terlibat.

          Kamar depan itu seolah tempat penting, di mana satu jawaban dari suatu desas-desus yang sudah menjalari seluruh kampong akan terpenuhi.

          Dokter memusatkan perhatian. Itu terlihat dari garis-garis halus yang menggores halus di dahinya. Dia juga tahu desas-desus itu, yang menjalar sampai ke kota. Mungkin karena itulah dia bertindak lebih hati-hati menyentuh luka itu, dan dia tampak melipatgandakan kecakapannya buat menyelamatkan jiwa Lasuddin. Tapi ia juga tahu, namanya akan tercoreng, bila seklai ini sampai gagal.

          “Bagaimana dokter?” Tanya paman anak sunatan itu.

          “Kita tunggu saja. Suruh mereka minggir sedikit, ruangan ini terlampau pengap.”

          “Dia anak ketiga. Dua sebelumnya telah menemui ajal di ruangan ini juga.”

          “Saya tahu cerita itu. Suruh mreke lebih menjauh sedikit. Biar dia lebih bebas mendapat udara yang segar.”

          Paman anak itu member isyarat dengan tangan. Seluruh keluarga itu pelan-pelan merenggang sehingga terbentuk lingkaran yang lebih besar.

          “Dokter oarng yang ketiga. Dua orang yang sebelum ini mengalami kegagalan yang amat mengharukan, di sini. Ruangan yagn semula dipenuhi gelak tawa, tiba-tiba saja pada saat yang mengharukan itu beralihjadi raung tangisan yang menyayat hati, beberapa tahun yang lalu. Sampai dua kali, Dokter.”

          “Aku tahu,” bisik dokter. “Aku pernah dengar cerita itu.” Semua peristiwa yang diungkapkan paman anak itu kini membayang di tiap kepala orang-orang yang melingkar itu. Tiap orang masih ingat akan kegemparan yang ditimbulkan, ketika anak yang kedua menemui ajalnya juga. Seluruh undangan yang jummlahnya memang sedikit ketika itu berkunjung kembali pada esok paginya, ketika selama setengah jam kentong di langgar-langgar dipukul orang sambung-menyambung. Kegemparan timbul karena anak yang petama telah mendahului adik-adiknya, pada pagi hari sunatan lima tahun sebelumnya.

          Jadi di pagi ini orang menjenguk lebih berduyun-duyun daripada dua peristiwa yang sebelumnya. Mengapa tidak? Karena tuan tanah itu telah termakan oleh desas-desus yang ditimbulkan oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Buat mengobati hati mereka, waktu anak ketiga itu akan disunat, dia mengadakan pesta yang meriah. Seluruh orang tua, pemuda, dan gadis-gadis sekampung menerima sehelai undangan. Di kertas undangan, ayah anak itu memohon doa restu atas keselamatan anaknya yang ketiga itu. Tidak mengherankan bila pagi ini orang pun berbondong-bondong seolah akan menghadiri suatu keramaian duka.

          Di jalanan orang mulai berderet-deret berdesakan masuk pekarangan. Di tiga bangunan pesta, orang mulai membanjir melempar mata ke kamar depan. Di jendela-jendela, di pintu dan melalui celah-celah, mata orang banyak mencoba menembus lingkaran orang di dalam kamar depan itu. Mereka menanti kepastian dari sana.

          “Bagaimana, bergantikah kegembiraan semalam dengan aiar mata pada pagi ini?”

          “Aku belum tahu. Aku juga baru sampai. Tapi belum ada kudengar tangisan dari sana.”

          Jari-jari dokter mulai melilitkan perban pembalut.

          “Bagaimana, Dokter? Mungkinkah darah bakal merembes, dari balik perban pembalut?”

          Paman anak sunatan itu melepaskan tangan dari dagu Lasuddin.

          Dokter mematikan simpul pembalut. Orang di sekitar dipandanganinya hampr satu per satu.

          “Anak ini seharusnya tidak seperti yang kalian duga. Dia lain dari kedua abangnya. Urat-urat di kemaluannya tidak seperti yang ada di kemaluan abangnya, seperti yang tadi Bapak ceritakan itu. Saya pernah dengar peristiwa itu. Dan saya tahu urat-urat yang membawa kematian orang. Sehingga kita harus hati-hati agar menghindarkan kematian. Saya tahu banyak tentang teori urat-urat pada kemaluan. Dan ini tidak akan membawa kematian Lasuddin. Lihat saja perban itu. Bila urat-urat di sana membawa ajal, darah dari balik perban pembalutnya akan merembes seperti air yang merembes pada kain cucian yang belum diperas.”

          Dokter diam sejenak, lalu melanjutkan kepada semua orang.

          “Tapi kalau dugaan keluarga ini benar bahwa ada sekelompok oran gyang ingin kematian seluruh anak tuan tanah ini, maafkanlah ucapan saya: anak ini harus kalian jaga ketat. Jangan biarkan mereka mendekat atau mencoba membuka kainnya. Sebenarnya, aku kurang yakin bahwa mereka menaruh racun berbisa pada pisau dukun-dukun sunat itu. Tapi tidak ada salahnya kalau Saudara-saudara hati-hati, buat menghindarkan segala kemungkinan yang tidak diinginkan. Jagalah kemungkinan itu, biar tidak terjadi. Lindungi anak ini. Dari segi medis saya jamin keselamatannya.”

          Dokter sepesialis itu lalu tersenyum. Benda yang dia operasi kecil itu ditepisnya dengan ujung jarinyanya. Dan anak sunatan yang terbujur di depannya membalas senyuman dokter itu dengan tertawa kecil.

          “Besok pagi, Buyung, kalau ada “lawan” yang berani menggodamu, layani saja. Ia sudah bisa dipkai bertempur.”

          Mendengar gurauan dokter spesialis itu, serentak wjah-wajah yang menyaksikan peristiwa itu mengulumkan senyum.


1962

Sumber Tulisan:
Panggilan Rasul, Gramedia, Cet. Pertama, September 2010

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap ...