Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala
Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama.
Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai.
Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh.
Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.
Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”.
Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai.
Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan.
“Tiada lagi bayangan dirimu
Yang s’lalu mencoba menahanku”
Ada kelegaan di sana.
Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu.
Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan.
“Bersama mentari, ku bernyanyi
Mewarnai hari-hari
Bersama pelangi, ku menari”
Segalanya terasa mungkin.
Segalanya terasa ringan.
Namun di sisi lain, ada ruang yang berbeda.
Ruang yang tidak terang, tapi juga tidak sepenuhnya gelap.
Ruang di mana seseorang tetap berjalan, tapi sesekali berhenti—bukan untuk kembali, melainkan untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang belum sepenuhnya pergi.
Di sana, saya menulis:
“Terdiam sendiri dalam remang muram suasana”
Tidak ada pelangi.
Hanya cahaya yang redup, cukup untuk melihat, tapi tidak cukup untuk melupakan.
Kopi menjadi hangat yang sederhana.
Rokok menjadi jeda yang pendek.
Dan di antara keduanya, ingatan datang tanpa diminta.
“Benakku bertamasya mengikuti asap pergi entah kemana”
Asap itu naik, menghilang, tapi tidak pernah benar-benar bisa ditangkap.
Seperti kenangan—yang tidak lagi menahan langkah, tapi juga tidak pernah benar-benar pergi.
Di titik ini, “move on” tidak lagi terdengar seperti perayaan.
Ia lebih menyerupai percakapan sunyi dengan diri sendiri.
Sebuah pertanyaan yang terus berulang:
“Apakah yang tersisa di dasar dada
Selain melupa yang telah tak ada”
Mungkin tidak ada jawaban yang benar-benar tuntas.
Mungkin yang ada hanyalah proses—yang berjalan pelan, tidak selalu rapi, dan seringkali kembali ke tempat yang sama tanpa kita sadari.
Namun, apakah itu berarti kita tidak bergerak?
Tidak juga.
Karena di balik semua itu, ada sesuatu yang tetap terjadi: langkah.
Langkah yang tidak selalu ringan, tidak selalu pasti, tapi tetap ada.
Jika Andien berbicara tentang terang setelah hujan,
maka mungkin yang lain sedang berada di antara gerimis yang belum sepenuhnya reda.
Dan mungkin, keduanya bukan sesuatu yang perlu dipilih.
Karena pada akhirnya, “move on” bukan tentang menjadi lupa.
Ia hanya tentang tetap berjalan—
meskipun sesekali, kita masih menoleh pada sesuatu yang perlahan menghilang, seperti asap di udara.
—
Gresik, 16 April 2026
Tarunala
Link:
Moving On - Andien Aisyah
https://open.spotify.com/track/20ybtNjrIHQYLnMUbPdmG8?si=_vQJ9na9QfClOf_JqiK8NA
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar