Langsung ke konten utama

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama.
Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai.

Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh.
Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang.


Andien Aisyah

source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ==


Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”.

Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai.
Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan.

“Tiada lagi bayangan dirimu
Yang s’lalu mencoba menahanku”

Ada kelegaan di sana.
Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu.
Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan.

“Bersama mentari, ku bernyanyi
Mewarnai hari-hari
Bersama pelangi, ku menari”

Segalanya terasa mungkin.
Segalanya terasa ringan.

Namun di sisi lain, ada ruang yang berbeda.
Ruang yang tidak terang, tapi juga tidak sepenuhnya gelap.
Ruang di mana seseorang tetap berjalan, tapi sesekali berhenti—bukan untuk kembali, melainkan untuk mengakui bahwa ada sesuatu yang belum sepenuhnya pergi.

Di sana, saya menulis:

“Terdiam sendiri dalam remang muram suasana”

Tidak ada pelangi.
Hanya cahaya yang redup, cukup untuk melihat, tapi tidak cukup untuk melupakan.

Kopi menjadi hangat yang sederhana.
Rokok menjadi jeda yang pendek.
Dan di antara keduanya, ingatan datang tanpa diminta.

“Benakku bertamasya mengikuti asap pergi entah kemana”

Asap itu naik, menghilang, tapi tidak pernah benar-benar bisa ditangkap.
Seperti kenangan—yang tidak lagi menahan langkah, tapi juga tidak pernah benar-benar pergi.

Di titik ini, “move on” tidak lagi terdengar seperti perayaan.
Ia lebih menyerupai percakapan sunyi dengan diri sendiri.

Sebuah pertanyaan yang terus berulang:

“Apakah yang tersisa di dasar dada
Selain melupa yang telah tak ada”

Mungkin tidak ada jawaban yang benar-benar tuntas.
Mungkin yang ada hanyalah proses—yang berjalan pelan, tidak selalu rapi, dan seringkali kembali ke tempat yang sama tanpa kita sadari.

Namun, apakah itu berarti kita tidak bergerak?

Tidak juga.

Karena di balik semua itu, ada sesuatu yang tetap terjadi: langkah.
Langkah yang tidak selalu ringan, tidak selalu pasti, tapi tetap ada.

Jika Andien berbicara tentang terang setelah hujan,
maka mungkin yang lain sedang berada di antara gerimis yang belum sepenuhnya reda.

Dan mungkin, keduanya bukan sesuatu yang perlu dipilih.

Karena pada akhirnya, “move on” bukan tentang menjadi lupa.
Ia hanya tentang tetap berjalan—
meskipun sesekali, kita masih menoleh pada sesuatu yang perlahan menghilang, seperti asap di udara.

—

Gresik, 16 April 2026
Tarunala


Link:

Moving On - Andien Aisyah

https://open.spotify.com/track/20ybtNjrIHQYLnMUbPdmG8?si=_vQJ9na9QfClOf_JqiK8NA


Move On: Antara Rokok, Kopi, dan Kenangan 
https://open.spotify.com/track/3GZxnuZKVyCnbDorOO4uPl?si=mftvXNC3QT-d5oehayMlNw

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita Catatan Membaca "Ariel" karya Sylvia Plath "Puisi tidak meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta dibaca dengan sabar." Sylvia Plath Saya tidak tahu apakah pembacaan saya atas Ariel adalah pembacaan yang tepat. Mungkin tidak. Puisi besar tidak pernah tunduk pada satu tafsir. Ia terus membuka pintu-pintu baru setiap kali dibaca. Tulisan ini bukanlah usaha menjelaskan Sylvia Plath, melainkan catatan seorang pembaca yang perlahan diajak berjalan oleh sebuah puisi. Bagi saya, Ariel tidak dimulai sebagai puisi tentang kematian. Yang pertama kali saya lihat justru seorang perempuan yang berada di pedesaan Devon menjelang fajar. Dunia masih membeku dalam kegelapan. Perlahan langit mulai membiru, tetapi biru itu belum menjadi langit yang utuh. Ia masih seperti sesuatu yang tak berwujud, sesuatu yang ghaib, yang mengalir dari balik tor—bukit-bukit batu granit yang menjulang di kejauhan. Pada tiga baris pertama itu saya tidak ...