Langsung ke konten utama

Jurasic World

 jurasic world




salah orientasi. tanpa melihat huruf labelnya, saya berpikir itu deretan kursi di bagian belakang, langsung click saja memilih deretan nomor tiga dari belakang setelah memilih judul sesuai pilihan si sulung. ternyata sesampai di tekape jadinya malah di  deretan nomor tiga dari depan. akibat tanpa "membaca" ini membuat mata terasa sakit di awal-awal, barangkali kemudian iada penyesuaian atau pemaksaan sehingga tidak terasa sakit lagi. ini berarti ketika saya melihat denah tempat duduk yang deretan bagian depan saya pikir merupakan bagian deretan belakang dan sebaliknya. wah, meski telah booked di pagi hari via m-tix tanpa mengantri tapi ternyata hasilnya seperti ketika terlambat datang membeli tiket. 


sedang tentang filmnya sendiri sebelumnya  saya tak berharap banyak akan puas menonton sesuai selera karena hanya berniat menemani dan tak pernah terbersit untuk menontonnya (di bioskop) ketika melihat-lihat film-film dengan status "playing". entah mengapa saya tidak begitu suka sebuah bangunan cerita dalam film dengan plot manusia "berhadap-hadapan" dengan alam (misal: 2012), binatang (misal: shark, boa dll). saya lebih menyukai kisah dengan konflik antar manusia dalam sebuah cerita. 


namun demikian ketika menikmati film ini meski dengan kondisi kurang nyaman karena terlalu dekat layar dan kedinginan oleh penyejuk udara sehingga harus lebih dari sekali coffee break, eh bukan, maksud saya "toilet break" 😂, saya menjadi berubah pikiran. saya suka dengan film ini.  


jurasic world ini intinya berkisah tentang upaya penyelamatan binatang-binatang raksasa dari ancaman bencana alam di sebuah pulau tempat suaka bernama isla nubla, berlokasi di negara cosca rica. (eh, sedang main bola ya team mereka). upaya ini dilakukan oleh pihak-pihak yang concern terhadap kelestarian spesies tersebut minus pihak pemerintah amerika karena pengelola taman jurasic itu memang pihak swasta dan pihak pemerintah tidak mau terlibat dalam misi penyelamatan tersebut. 


konflik berasal dari penghianatan oleh orang kepercayaan owner taman jurasic yang justru ingin menjual "piaraan" tuannya dengan mengundang para buyer dari berbagai negara setelah berhasil dalam misi penyelamatan. ketegangan-ketegangan muncul ketika terjadi bencana alam (gunung meletus) dan penghuni taman berlarian untuk menyelamatkan diri bersamaan dengan team penyelamat. ketegangan lainnya adalah perkelahian antara salah satu team penyelamat yang mempunyai kedekatan emosional dengan salah satu penghuni taman jurasic karena telah melatihnya mulai kecil dengan para begundal bayaran si penghianat. selain merawat binatang-binatang yang sudah ada ternyata dengan diam-diam tanpa sepengetahuan tuannya, si penghianat ini juga melakukan riset dan mengembangkan jenis baru yang didesain sebagai mesin pembunuh/perang yang diberi nama indoraptor. justru para buyer menjadi tertarik dengan dino yang jenis ini sehingga dalam pelelangan laku mahal harganya.


ya sudah, untuk kisah detail selanjutnya silahkan nonton sendiri ya. 😂😂😂

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama. Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai. Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh. Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Andien Aisyah source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ== Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”. Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai. Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan. “Tiada lagi bayangan dirimu Yang s’lalu mencoba menahanku” Ada kelegaan di sana. Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu. Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan. “Bersama mentari, ku bernyanyi ...

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita Catatan Membaca "Ariel" karya Sylvia Plath "Puisi tidak meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta dibaca dengan sabar." Sylvia Plath Saya tidak tahu apakah pembacaan saya atas Ariel adalah pembacaan yang tepat. Mungkin tidak. Puisi besar tidak pernah tunduk pada satu tafsir. Ia terus membuka pintu-pintu baru setiap kali dibaca. Tulisan ini bukanlah usaha menjelaskan Sylvia Plath, melainkan catatan seorang pembaca yang perlahan diajak berjalan oleh sebuah puisi. Bagi saya, Ariel tidak dimulai sebagai puisi tentang kematian. Yang pertama kali saya lihat justru seorang perempuan yang berada di pedesaan Devon menjelang fajar. Dunia masih membeku dalam kegelapan. Perlahan langit mulai membiru, tetapi biru itu belum menjadi langit yang utuh. Ia masih seperti sesuatu yang tak berwujud, sesuatu yang ghaib, yang mengalir dari balik tor—bukit-bukit batu granit yang menjulang di kejauhan. Pada tiga baris pertama itu saya tidak ...