Langsung ke konten utama

Menyapu

 

Seperti lidi-lidi yang menyatu dalam genggaman ibu, kami satukan segala panca indra di pusat dada sebagai ibu dari segala rasa yang kerap mengajak mendusta, mencela, menista, dan juga loba.


lalu, menyapulah ibu di halaman tak begitu luas dipenuhi dedaun dan reranting kering sebagaimana menyatunya segala rasa dari jejak-jejak karat dan dosa di beranda dada kami.


sebagaimana dedaun dan reranting kering di halaman ibu, mungkin telah mengering pula jejak-jejak karat dan dosa di beranda dada kami hingga kami harus menguras segala daya menguras segala air mata kami untuk menyapunya.


perlahan-lahan dedaun dan reranting kering itu pun menghilang dari halaman oleh sentuhan tangan lembut ibu sebagaimana perlahan-lahan menghilangnya jejak-jejak karat dan dosa di beranda dada oleh tumpahnya air mata kami.


namun teriknya mentari dan kesiur angin membuat halaman ibu sedikit demi sedikit dipenuhi dedaun dan reranting kering kembali sebagaimana teriknya benak dan kesiur hawa kami menjerat kami dalam goda dan noda kembali.


Ibu, sungguh kami selalu ingin selembut dan sesabar engkau dalam menjaga dan menyapu beranda dada kami, selembut dan sesabar engkau dalam menjaga dan menyapu halaman.


Semarang, Juni 2011

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...

The Wound of Sorrow

 the Wound of Sorrow                  by Zawawi In the Name of Yours I proposed to you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Fight for life Aren’t we Old friends Humming happily Since childhood Reaching for red and blue dragonflies Twisting flirtatiously in the thick grass Aren’t we A cheerful couple Combing along the edge of the river Admiring small shrimps Dancing on the white sand Aren’t we A naughty couple Splashing In shallow puddles Leftover from yesterday's heavy rain In your name I beg you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Seize life