Langsung ke konten utama

Kesurupan Jin Muslim

saya selalu apriori dan mencemooh "celotehan-celotehan" para politisi baik yang melalui media cetak, elektronik atau pun baliho, poster, spanduk dan lain-lain. duh, batin saya yang masih suka mencemooh. poor me. biasanya saya tidak pernah melanjutkan untuk menyimak celotehan-celotehan tersebut di media elektronik atau melanjutkan membaca celotehan-celotehan tersebut ketika menemuinya di sepanjang sisi jalanan yang saya lalui dan kebetulan melihatnya. saya berhenti menyimak atau membaca karena dalam pikiran saya sudah terbentuk mindset semacam sebuah  negative thinking. saya meyakini apa-apa yang mereka celotehkan itu hanyalah kata-kata belaka yang mereka tidak akan pernah berniat mewujudkannya. semacam iseng-iseng berhadiah kursi bila beruntung mendapat dukungan.


entah mengapa hari ini perasaan saya terasa berbeda. ketika saya melaju di sepanjang jalanan surabaya - probolinggo dengan mengendarai roda dua saat kebetulan  mengalihkan pandangan ke sisi kiri atau ke kanan jalanan karena bosan melihat muka aspal terus,  tiba-tiba saja dalam batin saya meng-amin-kan celotehan-celotehan para politisi yang saya baca di sisi jalanan tersebut. "amin, amin," demikian kata batin sata setelah selesai membaca celotehan-celotehan tersebut. semua kata-kata dalam celotehan tersebut positif semua. mereka menginginkan kemajuan bangsa dan kebaikan rakyat. setelah beberapa kali menemui celotehan dan mengaminkan tiba-tiba saya berpikir


 "oh iya, daripada saya terus-menerus apriori, mencemooh, mencela, negative thinking yang dapat mencoret-coret batin saya sendiri  bukankah akan lebih baik bila tak ada cemoohan,  tak ada celaan, tak ada negative thinking dalam batin saya." 


memikirkan hal itu kembali ketika masih melaju di jalanan, saya agak merasa "ndredeg" jangan-jangan saya kesurupan jin muslim.


😂😂😂

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...

The Wound of Sorrow

 the Wound of Sorrow                  by Zawawi In the Name of Yours I proposed to you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Fight for life Aren’t we Old friends Humming happily Since childhood Reaching for red and blue dragonflies Twisting flirtatiously in the thick grass Aren’t we A cheerful couple Combing along the edge of the river Admiring small shrimps Dancing on the white sand Aren’t we A naughty couple Splashing In shallow puddles Leftover from yesterday's heavy rain In your name I beg you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Seize life