Langsung ke konten utama

BEGO: Bahas Ego

 orang baper itu sejatinya apa lagi bego ya. maksud saya sedang "bahas ego". membahas egonya untuk memperoleh simpati dan dukungan. 


ada yang bilang kita, eh kita, saya kali,  kalau sudah punya pilihan, merasa pilihan itu adalah yang paling. paling benar, paling baik, paling jos, paling sip, paling yahud, paling asyik. apa paling kecap juga ya mungkin.


merasa yang paling ini tidak cukup disimpan di hati sendiri namun juga ingin di simpan di hati orang lain, orang banyak, diikuti dengan tindakan mengekspresikannya bahwa pilihannya yang paling baik sedang pilihan orang lain itu tidak baik, tidak benar, tidak jos, tidak sip, tidak yahud, tidak asyik, tidak okei-dokei dan lain-lain.


contoh mbahas ego ini barangkali dapat kita saksikan dalam "debat-debat" di media-media sosial. yang sudah memilih politisi/pemimpin/calon pemimpin a membuli pemilih politisi/pemimpin/calon pemimpin b dan sebaliknya, yang mengidolakan artis a membuli pengidola artis b dan sebaliknya, yang memilih bertuhan dengan metode a mengolok-olok mereka yang memilih bertuhan dengan metode b dan sebaliknya. yang tidak mengggunakan make up mengolok-olok yang memakai make up.


barangkali saking bego-nya kita, eh saya, eh, maksud saya saking bapernya sampai-sampai dalam urusan minum-meminum kopi pun pernah  juga saya jumpai ada yang saling  "membully". mereka yang meminum kopi hitam/pahit mempertanyakan, merasa heran, kepada peminum kopi yang tak hitam/pahit. "minum kopi kok manis. memang sirup?", "saya heran aja minum kopi kok pakai gula."


"hei gaes, gaes, gaes. mengapa kamu yang dalam kegelapan mengutuki kami yang dalam terang?"


😂😂

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Selamat Jalan Sang Pengelana

Selamat Jalan sang Pengelana: Sebuah Obituari untuk Penyair Nurel Javissyarqi (Nurel Javissyarqi) Dari kontakku dengan penulis buku Pendekar Sendang Drajat, aku mengenal seorang pelukis muda dengan medium batu candi. Kami pun menjadi akrab atau mungkin aku yang berupaya mengakrabkan diri agar memiliki seorang kawan di kota tempat tinggalku yang baru. Bila ada waktu, setelah selesai bekerja, aku kerap berkunjung di studio lukisnya sambil pesan atau dipesankan kopi di warkop sebelah studio atau makan bersama di luar kadangkala.  Kami pun ngobrol tentang segala sesuatu yang bisa diobrolkan, termasuk tentang seorang penulis yang dimiliki Lamongan.  Yang namanya pernah tercatat di koran beberapa waktu silam. Dari keakraban inilah kemudian aku diperkenalkan olehnya kepadamu.. Aku menjadi mengenalmu. Pertemuan kita pertama di sebuah acara komunitas sastra sebuah kota,  Kita sempat ngobrol di antara riuh suara panggung di belakang punggung penonton. Setelah itu kita jumpa pun han...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...