Langsung ke konten utama

Horor on the Street

(Raisa Andriana)


berkendara pada jam-jam sepi memang dapat melaju dengan lebih santai daripada pada jam-jam sibuk. hanya berpapasan dengan satu dua kendaraan. tidak disibukkan dengan menghindari kendaraan di depan ketika menyalip atau kendaraan di belakang ketika berisik dengan bunyi klakson meminta space. 


melintas malam dengan kendaraan roda dua melewati persawahan, pertambakan, semak-semak, pepohonan. sunyi. suara mesin motor dapat terdengar dengan jelas. suara serangga dari sisi kiri ketika melewati semak-semak terdengar lebih nyaring. tak ada yang aneh. benak terkadang bisa ke mana-mana atau pada tempatnya. suara diri sendiri kerap keras terdengar.


tak pernah saya catat dalam ingatan sampai pada tempat mana hal-hal yang saya rasa janggal ketika melintas dalam sunyi tersebut. terhidu bau masakan ketika melewati suatu tempat yang bukan perkampungan. seperti rebusan umbi-umbian atau terkadang tercium goreng-gorengan. dan suatu saat seperti tawa panjang seorang perempuan. "tetap tenang, tetap tenang," kataku pada diri sendiri. menenangkan diri. tentu tangan kanan sambil memutar ke belakang. meningkatkan kecepatan secara spontan. 


'hiii..hi...hi...hi......."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...

The Wound of Sorrow

 the Wound of Sorrow                  by Zawawi In the Name of Yours I proposed to you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Fight for life Aren’t we Old friends Humming happily Since childhood Reaching for red and blue dragonflies Twisting flirtatiously in the thick grass Aren’t we A cheerful couple Combing along the edge of the river Admiring small shrimps Dancing on the white sand Aren’t we A naughty couple Splashing In shallow puddles Leftover from yesterday's heavy rain In your name I beg you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Seize life