Langsung ke konten utama

Menugal Ladang Kerontang

ladang-ladang hati kami telah kering kerontang oleh kemarau tauladan panjang hingga dendang dendam ketidakadilan mengakar-tunggang menyulur menjalar meretakkan pilar-pilar.


kami tak pernah berharap lebih dengan turunnya deras hujan, hanya musim labuh dengan rinai yang rintik dan sengat matahari tak begitu terik pun kami syukuri agar kami dapat menugal ladang-ladang hati kami sendiri, menyemaikan biji-biji harap masa depan sebagai zikir lelaku kami bersama dan atas nama Tuan kami.

namun labuh pun sering salah musim dan kami hanya bisa menyalahkan cuaca tanpa bisa berbuat apa-apa. kami hanya dapat mengeja ketika angin gemetar menebar benih-benih pedih setelah mereka menugal ladang-ladang malang kami.

lalu tersemailah tunas-tunas duka menggayut di lindap muka menyembul api dibalik dada sewaktu-waktu menyulut membakar ladang-ladang kerontang mengirim asap merintikkan mata.

begitulah berabad-abad telah lewat kami saksikan kepedihan dalam dendam sejarah selalu berdarah-bernanah oleh ulah tetua-tetua kami.

masa lalu telah mengajari agar kami harus kokoh dan tak boleh roboh menggenggam Tugal kami sebagai pegangan menyemai bibit kehidupan, pedoman tanwujud mengakrabi maut.



Gresik, 17 Desember 2008

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...

The Wound of Sorrow

 the Wound of Sorrow                  by Zawawi In the Name of Yours I proposed to you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Fight for life Aren’t we Old friends Humming happily Since childhood Reaching for red and blue dragonflies Twisting flirtatiously in the thick grass Aren’t we A cheerful couple Combing along the edge of the river Admiring small shrimps Dancing on the white sand Aren’t we A naughty couple Splashing In shallow puddles Leftover from yesterday's heavy rain In your name I beg you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Seize life