Langsung ke konten utama

03:00 Pagi

(Si Cantik Danilla Riyadi)

Tiga Pagi


03:00 pagi

dan butiran-butiran putih yang berenang di sepiring kuah "becek"

mengganyang nafsu makanku.


menyandarkan punggung lelahku pada dinding kenyataan.


memandangi sudut-sudut kota yang kusam termakan usia.


jalanan masih mamring

poster-poster tumpang tindih berebut perhatian


"tak mungkin poster tentang sedot lemak," pikirku, "pasti sedot yang lain." batinku lagi.


poster-poster itu sungguh tahu diri, tahu tempatnya.


"anda butuh uang cepat? sama dong." 


yang sejenis itu pasti tak tertempel di dinding-dinding kusam kota itu. 


"apa mungkin hanya tertempel di jidatku saja?" pikirku.


sebuah hotel kehilangan huruf "h", dan mereka tampak baik-baik saja.


di balik dinding-dinding kusam itu, aku menerka-nerka, mereka sedang berbuat apa.


mungkinkah sedang khusuk dalam doa-doa untuk menghalau musuh-musuh mereka.


mungkin sedang lelap dalam bahagia, mendekap yang paling dicinta, setelah mengecup yang paling istimewa.


mungkin juga sepasang kasmaran yang sembunyi dari dunia karena statistika tak menguntungkan mereka.


menerka di balik dinding kusam kota, seperti membayangkan ketidakpastian masa depan.


sedang perjalanan serasa masih di sini-sini saja. entah mungkin aku yang lelah, tiba-tiba lelap tak merasakan tubuh yang telah berada di tujuan.


08;00 pagi

dan aku saksikan kaki-kaki yang kokoh perkasa

selalu waspada dalam segala suasana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama. Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai. Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh. Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Andien Aisyah source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ== Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”. Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai. Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan. “Tiada lagi bayangan dirimu Yang s’lalu mencoba menahanku” Ada kelegaan di sana. Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu. Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan. “Bersama mentari, ku bernyanyi ...

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita Catatan Membaca "Ariel" karya Sylvia Plath "Puisi tidak meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta dibaca dengan sabar." Sylvia Plath Saya tidak tahu apakah pembacaan saya atas Ariel adalah pembacaan yang tepat. Mungkin tidak. Puisi besar tidak pernah tunduk pada satu tafsir. Ia terus membuka pintu-pintu baru setiap kali dibaca. Tulisan ini bukanlah usaha menjelaskan Sylvia Plath, melainkan catatan seorang pembaca yang perlahan diajak berjalan oleh sebuah puisi. Bagi saya, Ariel tidak dimulai sebagai puisi tentang kematian. Yang pertama kali saya lihat justru seorang perempuan yang berada di pedesaan Devon menjelang fajar. Dunia masih membeku dalam kegelapan. Perlahan langit mulai membiru, tetapi biru itu belum menjadi langit yang utuh. Ia masih seperti sesuatu yang tak berwujud, sesuatu yang ghaib, yang mengalir dari balik tor—bukit-bukit batu granit yang menjulang di kejauhan. Pada tiga baris pertama itu saya tidak ...