Langsung ke konten utama

Selepas Mengantar Ayah

Selepas Mengantar Ayah

         Sajak Zawawi


(1)

aku lalui juga

kelak-kelok rute perbukitan

turun ke rerimbun

rumpun bambu dan

pohon-pohon randu


genang kenang Sungai Kening

tenang seolah madu

mengalir ke taman

istirahmu


doa atau

dosa yang kutabur

bersama bunga

atas masa-masa yang

telah sirna


taken from google

(2)

sepertiku

kau lewati juga

kelak-kelok rute kehidupan

jatuh ke rerimbun rumpun

kepedihan


genang sungai kenang

tetes seolah deras hujan

mengalir dari mata-mata

hatimu


aku melihat musim masih

seperti sediakala

dan matahari pun terbit

dari arahnya


“kini aku reranting kering cuklek

tergolek terpejam

terbanting di ranjang,” sedu hatimu


'memang tak mudah, bukan

melupakan yang pernah dominan?”, hiburku

seolah tak ada kehilangan

pun tak ada kegetiran


aku ingat suatu saat

“aku harus kuat,” katamu tegar

seperti tlah mengakar

di kekar tekatmu


ada suara-suara

mungkin serupa puja-puji

di dalam sini

yang seharusnya

tak musti


lalu,

“sampai jumpa,” kau berkata

mengakhiri cerita

“sampai ketemu,” sahutku

seperti enggan

menyudahi sebuah waktu

mungkin sebuah harap

seperti sejenis

rindu


(3)

di antara riuh bunyi-bunyi

dalam sunyinya hati-hati

menyebut-nyebut Ya Rabbi

terselip juga sebuah nama

namamu juga


mencari-Mu

ataukah mencarimu

ketika rasa smakin

merajalela seolah takut

tak kan jumpa


(4)

siapa terisak sesak

tumpahkan rindu, juga segala pilu

pada gerimis minggu


oh sang waktu

engkau sisipkan juga

diantara helai-helai rinduku

kunci-kunci pintu

menuju citra maya-Mu

tidakkah rindu ini rindu-Mu


(5)

“engkau dimana?,” teriak bathinku

seperti memanggil-manggilmu

“aku disini, berdiri diantara ribuan hati,” pesanmu

“apa menanti?,” pikirku


akhirnya,

aku medekat menghampirimu

menjabat erat memandangimu

dalam kabut hatiku


“happy to see you, Sis,” kataku setelah itu

“happy to see you too,” katamu 

seperti sebuah sipu

tak mau menatapku


mungkin engkau sedang 

- mengeja

statistika tentang kita


“apakah ini jatuh cinta?” tanya benakku

“bukan, ini bukan jatuh cinta, ini jatuh gila,” sanggah hatiku


menggilaimu-Mu




Januari 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Selamat Jalan Sang Pengelana

Selamat Jalan sang Pengelana: Sebuah Obituari untuk Penyair Nurel Javissyarqi (Nurel Javissyarqi) Dari kontakku dengan penulis buku Pendekar Sendang Drajat, aku mengenal seorang pelukis muda dengan medium batu candi. Kami pun menjadi akrab atau mungkin aku yang berupaya mengakrabkan diri agar memiliki seorang kawan di kota tempat tinggalku yang baru. Bila ada waktu, setelah selesai bekerja, aku kerap berkunjung di studio lukisnya sambil pesan atau dipesankan kopi di warkop sebelah studio atau makan bersama di luar kadangkala.  Kami pun ngobrol tentang segala sesuatu yang bisa diobrolkan, termasuk tentang seorang penulis yang dimiliki Lamongan.  Yang namanya pernah tercatat di koran beberapa waktu silam. Dari keakraban inilah kemudian aku diperkenalkan olehnya kepadamu.. Aku menjadi mengenalmu. Pertemuan kita pertama di sebuah acara komunitas sastra sebuah kota,  Kita sempat ngobrol di antara riuh suara panggung di belakang punggung penonton. Setelah itu kita jumpa pun han...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...