Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2023

Good guys, Bad Guys, and Light Green

they have - different principles dissimilar ways of life unless about one color they are acquiescent it's fresh in their eyes

Ayolah pelan-pelan, Eden!

Ayolah pelan-pelan – Eden!  (205)              by Emily Dickinson Ayolah pelan-pelan – Eden! Bibir yang tak layak untuk-mu – Malu-malu – menyesap wangi-mu – Sebagai seekor lebah pingsan taken from google Terlambat mencapai bunga-nya, Mengitari kamar-nya bersenandung – Menghitung nektarnya – Masuk – dan hilang di Balsam.

Billie Holiday: Mutiara Jazz

Billie Holiday: Mutiara Jazz Billie Holiday (pict taken from gettyimage)  " Dia merintis sebuah Era Baru dalam Musik dan Pertunjukan." Bakat murni, gaya unik, dan penampilannya yang jujur ​​mengubah dunia menyanyi.  Penyanyi dan penulis lagu jazz Amerika ini tetap menjadi ikon budaya, yang warisannya terus memengaruhi dan menginspirasi.  Cahaya mutiaranya menyala terang dalam hidupnya yang singkat, meninggalkan banyak karya klasik untuk menggerakkan kita.   __________  “Jika aku bernyanyi seperti orang lain, maka aku tidak perlu bernyanyi sama sekali.” Musik jazz saat ini berutang budi kepada seorang wanita dengan bakat asli dan mentah, dan tekadnya yang berani untuk bernyanyi dari hatinya dengan gayanya sendiri. Eleanora Fagan Gough lahir 7 April 1915 di Philadelphia.  Tumbuh di era jazz-renaissance tahun 1920-an, dia bernyanyi bersama rekaman Bessie Smith dan Louis Armstrong.  Meskipun dia tidak pernah menerima pelatihan teknis atau belajar memb...

Keramaian di Sebuah Rumah

Keramaian di sebuah Rumah (1108)       by Emily Dickinson Keramaian di sebuah rumah Pagi hari itu setelah kematian Apakah industri yang paling khidmat Diberlakukan di Bumi – Yang menyapu hati Dan menyisihkan cinta Kami tak ingin menggunakannya lagi Sampai keabadian - 

Hepatica yang rapuh

 [Hepatica yang rapuh]           Jun Fujita Hepatika yang rapuh Dengan malu-malu menahan keharumannya Di bawah embun pagi yang segar. Demikian pula, Elizabeth.

Gema

gema - bertubi-tubi mengantamku dalam gerak tarian topeng melakonkan figur-figur antagonis refleksi batin pada rupa seringai topeng-topeng membawakan stansa ejekan sepanjang hari apakah gemanya menggema pada-mu juga?

Langkan

Langkan     Puisi Kevin Young Sia-sia belaka berkata-kata              pada yang telah tiada apa yang telah Engkau dapati sebab mereka telah melewatinya juga - Bagaimana tetap bertahan               tanpa dirimu, kasih pagi hari atau pergi,               cahaya yang gigih meski masih. * taken from google Kecantikan tetaplah kecantikan              sungguh, ibuku berkata, Siapa yang cantik dan berbicara dengan lantang sehingga dia dapat dipahami              Tidak seperti penyair yang tak dapat bicara untuk menyelamatkan hidup mereka Sehingga mereka menulis * Seperti sebuah bahasa,               kehilangan - dapat               dipelajari hanya  dengan hidup - di sana - * Apa yang membuat kita mengakar         ...

Uang Recehan

uang recehan   ~ (carol styamurti, 1939-2019) di sini pasti ruang area terakhir lorong remang di bawah jembatan yang rembes merupakan satusatunya rute menuju bawah tanah engkau melewati empat, terkadang lebih, orangorang terlelap bersandar di dinding sama saja, hari demi hari, minggu demi minggu, beberapa gundukan di bawah selimut kotor,  beberapa duduk, disapu angin, seolah  tercengang gemuruh kereta di atas kepala.  bahkan saat sepi, mereka tidak bersuara, tetap duduk menghadap cangkir kertas kosong mereka, wajah terkuras pucat pasi, atau berkulit merah dengan tampilan yang beralkohol dan tahan cuaca. aku ingin mereka pergi.  aku ingin dibebaskan. haruskah aku memberikan beberapa keping recehan kepada mereka masing-masing? jika hanya satu… atau hanya satu hari… di jurang antara aku dan mereka tergantung penyakit.  langkah demi langkah, aku menatap ke depan, tetap pada tujuanku yang hangat dan baik  apa hubungannya puisi dengan ini? catatan: Carole Sa...

Bukan sebab kematian aku bertahan

bukan sebab kematian aku bertahan emily dickinson bukan sebab kematian, aku bertahan - dan semua yang mati, terbaring bukan karena malam, semua lonceng menjulurkan lidah, bagi siang. bukan karena embun membeku, pada dagingku aku merasakan angin panas - menjalar - bukan pula tersebab api, hanya kakiku pada marmer dapat menjaga altar tetap, dingin - namun, terasa, seperti mereka semua, figur-figur yang telah ku saksikan tertata rapi, tuk pemakaman mengingatkanku, pada pemakamanku - seolah-olah hidupku terpotong-potong, dan dibingkai, dan tak bisa bernafas tanpa sebuah kunci, dan seperti dini hari, beberapa - saat semua yang berdetak - telah terhenti - dan ruang memandang - sekeliling - atau embun beku yang mengerikan - duka di awal musim gugur, meniadakan tanah yang dikalahkan - tapi kebanyakan, seperti kekacauan - tanpa henti - dingin - tanpa peluang, atau tiang - atau bahkan laporan tanah - 'tuk membenarkan - keputusasaan.

Ramadhan I 2023

di alas karpet. (setengah) empuk kuteguk segelas teh tak lagi hangat setelah tiga biji kurma kulahap dengan lekas entah pada kunyahan ke berapa namamu tiba-tiba memenuhi ruang udara benakku apa ini sejenis rindu atau semacam rasa malu ada tabir yang lebih tebal dari waktu, menciptakan jarak antara tuan dan aku  lalu, satu persatu narasi-narasi silih berganti mengisi        ada hari-hari kerap terlewati dengan batu mengganjal madaran -         ada minggu-minggu kebak luka saat memuja -         ada bulan-bulan penuh pengharapan dalam ancaman -         banyak tahun-tahun menyusuri jalan panah dan pedang - ada getar melela dalam dada ada sengguk tertahan di dalam dan riuh masih terus gemuruh dan hingar tak jua memudar apakah ini sejenis rindu atau  semacam rasa malu di alas marmer dingin ku sesap pahit tembakau riuh tetap saja selalu bergemuruh dan bingar tetap jua tak pudar pada asap yang menguar di u...

Ejaan Ejekan Semesta

dari media sosial  ia berkabar seorang pertapa mengeja kitab dunia dari menara gadingnya membaca daundaun jatuh dari tangkainya membaca peta perjalanan keharibaan mengungkap sisi-sisi gelap  di balik dinding penuh anasir apakah kasih sayang memanggil untuk membuat  semesta bulat sempurna? atau menaksir desir-desir potensi berlawanan di balik tabir?

How deep is your diving

  how deep you could dive - into the depth of the ocean of your inside you might found - something lovely something ugly there might be - coral reef wild fish how deep you might dive - into the sea of your soul understanding your whole measuring the journey lead toward eternity

Simon & Garfunkel: uara Kesunyian

source: google by Simon & Garfunkel Halo, kegelapan, teman lamaku Aku datang untuk berbincang denganmu lagi Sebab sebuah visi merayap perlahan Meninggalkan benihnya saat aku sedang tertidur Dan visi yang tertanam di  benakku Masih ada Dalam suara kesunyian Dalam mimpi yang resah aku berjalan seorang diri Jalan setapak berbatu Di bawah sapaan cahaya lampu jalan Aku menaikkan kerahku pada dingin dan lembap Saat mataku tertusuk sinar lampu neon yang membelah cahaya Dan menyentuh suara keheningan Dan dalam cahaya telanjang aku menyaksikan Sepuluh ribu orang, mungkin lebih Orang berbincang tanpa bicara Orang mendengar tanpa menyimak Orang menulis lagu yang suaranya tak pernah terdengar Tak ada yang berani Mengganggu suara kesunyian "Bodoh," kataku, "Tahukah Engkau, kesunyian seperti sebuah kanker yang tumbuh.  Dengarlah kata-kataku agar aku bisa mengajarimu Pegang tanganku agar aku bisa menggapaimu." Tapi kata-kataku seperti tetesan hujan yang diam jatuh.  Dan bergem...

Eid Day

taken from google black hole arises - unveil its self in the loud of silence along with hurly burly of discordant  tone worshipping - He's the Great

Sebelum Mataku Tak Bisa Melihat

Emily Dickinson [336] sebelum mataku tak bisa melihat – aku juga suka untuk melihat-lihat seperti makhluk lain, yang memiliki mata – dan mengetahui tak ada cara lain – tapi hal itu menyadarkanku, hari ini, bahwa mungkin langit adalah milikku bagiku, aku memberi tahumu bahwa hatiku akan terbelah, untuk seukuranku – padang rumput – milikku – pegunungan – milikku – seluruh hutan – bintang-bintang tanpa batas – sepanjang siang, yang dapat aku ambil – di antara mataku yang terbatas – polah burung-burung menyelam – pagi hari di jalan amber – bagiku – untuk menatap saat aku suka, cerita itu akan membuatku sungguh terhentak - jadi lebih aman – tebak – hanya dengan jiwaku di kaca jendela di mana makhluk lain menggunakan mata mereka – tak berhati-hati – dari Matahari –

Setelah Rasa Sakit yang Paling Sakit

[372] Emily Dickinson setelah rasa sakit yang paling sakit, sebuah perasaan bertahan tiba - saraf-saraf duduk berupacara, seperti nisan-nisan tanya-tanya hati yang jumud, "Dia-kah, yang menjemukan," dan, "kemarin-kemarin, atau berabad-abad sebelumnya?" kaki-kaki, mekanis, berputar - sebuah cara kayu dari tanah, atau udara, atau yang semestinya - bagaimanapun tumbuh, sebuah kepuasan kuarsa, seperti sebuah batu - ini adalah saat-saat untuk menjalani mengingat, bila hidup lebih lama, sebagai orang-orang yang membeku - mengenang salju - pertama - tanpa perasaan - kemudian tanpa sadar - lalu ikhlaskan -