Langsung ke konten utama

Anchoring

(Thanding Sari)


kata auggie pullman, tokoh si anak "buruk rupa" dalam film Wonder (2017), sutradara steven chibosky, yang mendapat bully-an dan tatapan yang tidak mengenakkan ketika berjumpa dengan kawan-kawannya di sekolah dan orang-orang yang dijumpainya, 

"ketika dunia luar yang engkau hadapi kacau dan tidak sesuai dengan harapanmu, maka ciptakanlah imajinasi dalam pikiranmu yang membuat engkau nyaman."

sebab itulah ketika dia sedang berjalan di kerumunan dan mendapat tatapan "aneh" dari orang-orang yang dia temui, dia membayangkan dirinya sebagai astronot yang mendapat sambutan meriah dari orang-orang. 

si anak buruk rupa ini sebenarnya juga bisa menertawai diri sendiri. lihat saja ketika dia berhasil mendapatkan seorang kawan yang akrab si kawan ini bertanya kenapa dia tidak operasi plastik. lalu auggie menjawab bahwa hal itu tidak terpikir olehnya. 

"bodoh, wajah ini adalah hasil terbaik dari segala daya upaya dalam operasi plastik." lanjut auggie sambil ngakak.

menonton wonder mengingatkan saya pada suatu waktu ketika saya masih jadi orang kantoran. saya pernah mendengar dari seorang trainer (semacam) motivasi atau tepatnya mendapat nasehatnya ketika perusahaan tempat saya bekerja bekerja sama dengan perusahaan trainer dimaksud.  sebelum memberikan materi di depan audience dia mendengarkan lagu-lagu yang membuatnya bersemangat. lagu-lagu tertentu yang dia dengarkan itu membuat dia mengingat pada hal-hal yang positif, tentang keberhasilan-keberhasilan yang pernah dia capai dan mengabaikan hal-hal negatif. 

saya pikir saya sepakat dengan yang dia katakan karena suatu ketika saya pernah berada di depan audience sebagai pembawa acara. ketika microphone sudah ditangan saya dan saya akan memulai membuka acara tiba-tiba suasana menjadi hening. tidak seperti biasanya. entah mengapa hal-hal negatif tiba-tiba muncul di benak saya dan akibatnya hilanglah kalimat-kalimat yang akan saya sampaikan untuk beberapa saat. saya menjadi tidak bersemangat. bicara tersendat-sendat. 

apa yang dilakukan trainer di atas, mendengar atau mengingat sesuatu yang positif untuk menciptakan kondisi positif dalam dirinya sebagai pijakan dalam aktivitas berikutnya itu dia sebut "anchoring". saya tidak tahu definisi akuratnya namun kurang lebih demikian yang dapat saya tangkap dari pembicaraan kami. 


barangkali apa yang dilakukan pullman itu juga semacam "anchoring" sebagaimana yang "dahulu kala" juga pernah saya lakukan ketika dalam penerbangan Surabaya - Jakarta. ketika telah duduk di kursinya saya sambil tersenyum di hati membangun sebuah "kepercayaan" bahwa nawang wulan, si bidadari yang katanya tidak hanya selendangnya saja yang dicuri oleh jaka tarub, namun juga atasan, bawahan, daleman dll itu masih belum juga pulang ke kahyangan. itulah sebabnya saudari-saudarinya, bidadari juga, yang menyamar sebagai pramugari itu masih mencari-cari keberadaannya dan setiap hari terbang ke segala penjuru dunia. 


dengan "kepercayaan" itu saya dapat mengusir sebagian besar rasa ketir-ketir saya dan tidak perlu begitu ngotot "bermunajat" dengan mengancam-ancam tuhan agar tidak menjatuhkan pesawat yang saya tumpangi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama. Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai. Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh. Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Andien Aisyah source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ== Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”. Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai. Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan. “Tiada lagi bayangan dirimu Yang s’lalu mencoba menahanku” Ada kelegaan di sana. Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu. Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan. “Bersama mentari, ku bernyanyi ...

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita Catatan Membaca "Ariel" karya Sylvia Plath "Puisi tidak meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta dibaca dengan sabar." Sylvia Plath Saya tidak tahu apakah pembacaan saya atas Ariel adalah pembacaan yang tepat. Mungkin tidak. Puisi besar tidak pernah tunduk pada satu tafsir. Ia terus membuka pintu-pintu baru setiap kali dibaca. Tulisan ini bukanlah usaha menjelaskan Sylvia Plath, melainkan catatan seorang pembaca yang perlahan diajak berjalan oleh sebuah puisi. Bagi saya, Ariel tidak dimulai sebagai puisi tentang kematian. Yang pertama kali saya lihat justru seorang perempuan yang berada di pedesaan Devon menjelang fajar. Dunia masih membeku dalam kegelapan. Perlahan langit mulai membiru, tetapi biru itu belum menjadi langit yang utuh. Ia masih seperti sesuatu yang tak berwujud, sesuatu yang ghaib, yang mengalir dari balik tor—bukit-bukit batu granit yang menjulang di kejauhan. Pada tiga baris pertama itu saya tidak ...