Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2024

Tentang Kesepian

 Tentang Kesepian Kesepian adalah "kondisi kesulitan atau ketidaknyamanan yang terjadi ketika seseorang merasakan kesenjangan antara keinginan dalam hubungan sosial dan pengalaman aktualnya." Otak orang kesepian bereaksi dengan cara yang unik saat melihat stimulus visual, sementara otak orang yang tidak kesepian bereaksi serupa satu sama lain. Orang yang kesepian mungkin benar-benar memandang dunia dengan cara yang berbeda, mungkin menemukan lebih sedikit nilai dalam momen hidup yang dinikmati oleh orang yang tidak kesepian. Setiap orang kesepian memiliki cara kesepiannya masing-masing. Orang yang tidak kesepian memiliki respon yang sama  satu sama lain, sedang orang kesepian memiliki respon yang berbeda satu sama lain dan dengan orang yang tidak kesepian. Siapapun dapat menjadi kesepian tidak peduli bagaimana hubungan sosial mereka. Orang yang kesepian mungkin memandang dunia dengan cara yang berbeda dari lingkungannya.   Ketika dikelilingi terutama oleh orang-orang...

Fragmentasi Jiwa (Kisah Toa dan Sepasang Telinga)

kisah toa & sepasang telinga kami adalah jiwa-jiwa yang merasa setiap pasang telinga adalah ladang amal soleh bagi kami.  sebab itulah suara lantang kami membahana, menggedor-gedor setiap gendang telinga hampir-hampir tanpa jeda.  tetapi ternyata justru kamilah ladang amal soleh bagi setiap pasang telinga karena betapa bersabarnya mereka atas kegaduhan dan ketidakpedulian kami.

Love is Blind

 :: cinta itu buta (love is blind) merupakan frasa yg diciptakan oleh william shakespeare yang tertuang dalam  beberapa karyanya. frasa itu hingga kini masih kerap digunakan/dikutip. frasa tersebut mengacu pada pengabaian atas cela/kekurangan seseorang karena dia/mereka mencintainya. apakah cintamu masih buta?

Kompetensi Seorang Nabi

sebuah bumn open recruitment yang dishare di media sosial, lalu salah satu netijen  yang mungkin saja kesel dengan "tuntutan"  persyaratan kompetensi yang dianggapnya terlalu tinggi, barangkali setinggi cita-cita saya sewaktu masih anak-anak, dia pun menimpali dengan komentarnya: "sekalian saja ditambah mampu membelah lautan dan tidak hangus terbakar api." komentar yang sungguh menghibur. jadi perlu kompetensi nabi musa dan nabi ibrahim untuk dihire perusahaan negara.

Sebuah Drama Seru

di kawasan kaki lima sebuah tempat doa - suara         gas meraungraung dan seorang ibu kudengar         bersuara -                  "diamput," batinku entah mengapa tertawa         membelanya - ku simak drama  lebih seru dari panggung        benakku -

Utas Bersilang

Utas Bersilang       Puisi Helen Hunt Pemintal ghaib merangkai sutera Yang mengapung begitu santai di udara musim panas, Dan membantu membuat setiap pagi musim panas yang nyaman, Bersinar seperti perak di bawah sinar matahari musim panas, Tertangkap oleh angin sepoi-sepoi, satu demi satu, Ditiup ke timur dan barat dan diikat di sana, Menenun di semua jalan jerat mereka yang tiba-tiba. Tidak ada tanda jalan mana yang paling aman, lari paling bebas, Serangga bersayap tahu, yang melambung begitu gaya Untuk menemui kematian mereka pada setiap hari musim panas. Beraninya kita mendakwa perbuatan manusia apa pun; Cobalah untuk menghitung risiko  setiap saat; Atau kepercayaan jalur apa pun yang aman dan sederhana Karena kita tidak melihat di mana utasnya telah bersilangan?

Kesunyian

 KESUNYIAN          puisi Marianne Moore (1887-1972) Dulu, ayahku berkata,  “Orang-orang superior tak pernah berkunjung lama, harus ditunjukkan makam Longfellow atau bunga kaca di Harvard. percaya diri seperti kucing – yang mengambil mangsa untuk diri sendiri, ekor lemas tikus menggantung seperti tali sepatu dari mulutnya – mereka terkadang menikmati kesendirian dan dapat dirampok kata-kata dengan ucapan yang menyenangkan mereka. Perasaan terdalam selalu menampakkan diri dalam diam; bukan dalam kesunyian, tetapi dalam kekangan.” Dia juga tidak tulus saat berkata, "Jadikan rumahku penginapanmu.''' Losmen bukanlah tempat tinggal.

Aku Belum Pernah Menyaksikan Gunung Berapi

Aku belum pernah menyaksikan "Gunung Berapi" (175) Puisi Emily Dickinson Aku belum pernah menyaksikan "gunung berapi Tapi, ketika Wisatawan memberi tahu Bagaimana gunung-gunung tua - berdarah dingin itu Biasanya tetap begitu - Menyimpan di dalam — persenjataan yang mengerikan, Api, dan asap, dan senjata, Merebut pedesaan untuk sarapan, Dan orang-orang yang mengerikan— Jika keheningan adalah gunung berapi Di wajah manusia Saat sedang sakit Titanic Fitur mempertahankan tempatnya — Jika panjang lebar penderitaan membara Tidak akan mengatasi - Dan Kebun Anggur yang berdebar  Dalam debu, dibuang?  Jika beberapa Antiquary mencintai,  Pada Pagi Kembalinya,  Tidak akan menangis kegirangan "Pompeii"!  Kembali ke Bukit! 

Oh, Datanglah Dalam Mimpi-Mimpiku, Cintaku!

 Oh, Datanglah dalam mimpi-mimpiku, Cintaku!        Puisi Marry Shelley Oh, datanglah dalam mimpi-mimpiku, Cintaku! Aku tak kan meminta kebahagiaan yang lebih sempurna; Datanglah dengan berkas berbintang, Sayangku, Dan sentuhlah kelopak mataku dengan kecupanmu. "Begitulah, seperti dikisahkan dongeng-dongeng kuno, Cinta datang kepada seorang pelayan Yunani. Hingga dia mengganggu mantra suci. Dan tersadar harapan-harapannya telah dikhianati. Tapi tidur nyenyak akan menutupi penglihatanku, Dan lampu jiwa akan menjadi gelap, Saat, dalam pandangan malam. Engkau bersumpah kembali padaku. Jadi datanglah dalam mimpi-mimpiku, Cintaku, Aku tak kan meminta kebahagiaan yang sempurna. Datanglah dengan berkas berbintang, Sayangku. Dan sentuhlah kelopak mataku dengan kecupanmu.

Aku Tak Mau Melukis Sebuah Lukisan

Aku tak mau melukis sebuah lukisan (348)          puisi Emily Dickinson Aku tak mau melukis - sebuah lukisan - Aku lebih suka menjadi Seseorang Dengan kemungkinan yang cerah Berdiam - dalam - kemapanan Dan penasaran bagaimana jari-jemari merasai Yang langka - surgawi - mendebarkan - Menimbulkan siksaan begitu manis - Begitu mewah - patah arang - Aku tak mau bicara, seperti cornet - Aku lebih suka menjadi Seseorang Bangkit perlahan sampai ke langit-langit - Lalu pergi, dan dengan mudah - Melewati desa-desa Ether - Diriku sendiri diberkati dengan balon Tetapi dengan bibir logam - Dermaga untuk pontonku - Begitu pula, aku juga tak mau menjadi penyair - Lebih baik - memiliki telinga - Terpikat - tak berdaya - berisi - Lisensi untuk menghormati, Sebuah privelege yang sangat buruk, Berapakah harga yang harus dibayar, Apakah karya seniku hanya untuk memukau diriku sendiri Dengan gemuruh - dari melodi!

Cara Menjadi Pakis

CARA MENJADI PAKIS          puisi Kit Fan Biru-putih kemudian abu-abu bertinta lalu hujan es berketipak-ketipuk pada kaca. Kota yang aku cinta yang namanya telah aku hapus kembali antara aku dan kaca saat guntur melengking seperti suara saksofon terkubur di dalam salah satu guci Keats. Beri aku kesempatan kedua, kota menyelundup. Sebuah legiun awan badai menilai diriku. Aku yang masih muda, membuka hatiku  terlalu cepat dan angin mencabik-cabiknya begitu saja.  Angin tak  pernah menjadi kota kecuali bila ia menguras darah, keheningan yang terisi seperti kapas  masuk ke telinga, mata, hidung, anus, mulut, dan diawetkan apa yang tersisa padaku  dalam lumpur Keheningan adalah kota yang masih kuciumi, bukan tanpa alasan.   Banyak mata air telah disemprotkan dan aku tetap berciuman, membentangkan lidahku untuk kota dalam diriku, aku tidak bisa kembali bukan hujan, angin, atau kaca.  Aku bukan pakis. Katakan padaku bagaimana men...

Bulan Jauh dari Laut

 Bulan jauh dari Laut – (387)           Puisi Emily Dickinson Bulan jauh dari laut – Namun, dengan tangan kuning itu – Dia menuntunnya – patuh seperti seorang bocah – Sepanjang pasir yang ditunjuk – Dia tak pernah melupakan sebuah gelar – Manut pada matanya – Dia datang baru sejauh ini – menuju Kota – Sejauh ini – lenyap – Oh, Tuan, milikmu, tangan yang kuning itu– Dan milikku – laut yang jauh – Patuh pada perintah paling remeh Matamu memaksakannya padaku –

Sekarang Aku Tahu Aku Kehilangan Dia

Sekarang Aku Tahu Aku Kehilangan Dia (1274)            Puisi Emily Dickinson Sekarang aku tahu aku kehilangan dia -  Bukan karena dia telah pergi -  Namun perjalanan dalam kesendirian Pada wajah dan lidahnya Asing, meski berdekatan Seperti suku asing - Melintasi dia meski ada jeda Tempat tanpa garis lintang Elemen-elemen tak berubah - Pada semesta yang sama Kecuali transmigrasi cinta Entah bagaimana hal ini bisa terjadi Untuk selanjutnya diingat Alam merenggut hari itu Aku telah berkorban begitu banyak untuk hal itu Dia dalam kekurangan Bukan siapa yang bekerja keras untuk kebebasan atau untuk keluarga Tetapi pemulihan Atas pemberhalaan (Missing You, Deana Markus)

Kesunyian adalah Rumahnya

Kesunyian adalah Rumahnya            puisi Emily Bronte Ayolah, angin mungkin tak pernah lagi Bertiup seperti saat ini, ia berhembus kepada kita; Dan bintang-bintang mungkin tak akan pernah lagi bersinar seperti saat ini mereka bersinar; Jauh sebelum Oktober tiba; Lautan darah akan memisahkan kita; Dan engkau harus menghancurkan cinta itu dalam hatimu, dan aku harus menghancurkannya dalam hatiku! :: Malam semakin gelap mengelilingiku            puisi Emily Bronte Malam semakin gelap di sekitarku, Angin liar berhembus dengan dingin; Tapi sebuah mantra tiran telah mengikatku, Aku tak bisa, tak bisa pergi. Pohon-pohon raksasa itu menunduk Dahan-dahannya yang telanjang penuh dengan salju; Badai turun dengan cepat, Dan aku belum bisa pergi. Awan di belakang awan di atasku, Limbah di belakang limbah di bawah; Tetapi tak ada rasa muram yang dapat menggerakkanku; Aku tak mau, tak bisa pergi. 

Akankah Bumi Tak Menginspirasimu Lagi

Akankah bumi tak menginspirasimu lagi          puisi Emily Bronte Akankah bumi tak menginspirasimu lagi, Engkau pemimpi kesepian saat ini? Sebab semangat mungkin tak lagi membakarmu Haruskan alam berhenti menunduk? Pikiranmu selalu bergerak Di tempat yang gelap bagi dirimu; Mengingat perjalanannya yang tak berguna – Kembalilah dan tinggalah bersamaku, Aku tahu angin gunungku yang sepoi-sepoi Masih memikat dan membuatmu tenang –  Aku tahu sinar mentariku yang menyenangkan Meski tak sesuai dengan inginmu, Saat siang menyatu bersama malam Tenggelam dari langit musim panas Aku telah menyaksikan semangatmu membungkuk Dalam pemberhalaan Aku mengawasimu setiap jam; Aku tahu pengaruhku yang besar, Aku tahu kekuatan gaibku Untuk mengusir rasa dukamu Sedikit hati yang diberikan kepada manusia  Di bumi ada begitu banyak pohon pinus Namun tak seorang pun akan meminta surga Lebih mirip bumi ini daripada bumimu Lalu, biarkanlah anginku membelaimu Ijinkanlah aku menj...

Penyangkalan

 Penyangkalan            puisi George Herbert Ketika baktiku tak mampu menembus Telingamu yang tuli Lalu hatiku pun hancur, begitu pula syair-syairku; Dadaku penuh ketakutan Dan kekacauan. Pikiranku yang bengkok, seperti sebuah busur rapuh, Memang terbang terbelah: Masing-masing menempuh jalannya sendiri; beberapa orang akan pergi bersenang-senang, Beberapa menuju perang dan gemuruh dari tanda bahaya “Sebaiknya pergi ke mana pun,” kata mereka, “Seperti mati rasa Baik lutut maupun hati, menangis siang dan malam, Ayo, ayo, ya Tuhanku, ayolah! Namun tak ada pendengaran, Oh, sekiranya Engkau harus memberi debu pada lidahmu Untuk menangis padamu, Dan kemudian tidak mendengarnya menangis! Sepanjang hari Hatiku ada di lututku, Tapi tidak ada pendengaran. Oleh karena itu jiwaku hilang dari pandangan, Tidak disetel, tidak dirangkai: Semangatku yang lemah, tidak mampu melihat dengan benar, Bagaikan bunga yang terpotong, digantung Tidak senang O bersoraklah dan s...

Sebuah Kenangan

 Sebuah Kenangan          puisi Anne Bronte Ya, engkau telah pergi dan tak 'kan pernah lagi senyum cerahmu akan membuatku gembira; Tapi aku mungkin melewati pintu gereja tua Dan melangkah di lantai yang menutupimu Mungkin berdiri di atas batu yang dingin dan kotor Dan memikirkan yang membeku terbaring di bawah Hati yang paling ringan yang telah ku kenal Yang paling baik yang pernah aku tahu Namun, walaupun aku tak dapat berjumpa denganmu lagi Masih menyenangkan untuk dilihat, Dan meskipun hidupmu yang sementara telah berakhir Sungguh manis berpikir bahwa engkau pernah mengalami; Memikirkan sebuah jiwa begitu dekat dengan tuhan, Dalam bentuk bidadari yang cantik Bersatu dengan hati seperti hatimu Telah menggembirakan sekali di dunia kita yang sederhana.

Musim Gugur, Dedaunan, Berjatuhan

Musim gugur, dedaunan, berjatuhan            puisi Emily Bronte Musim gugur, daun-daun, berjatuhan, mati, bunga-bunga, pergi, Membuat malam menjadi panjang, memperpendek siang, Setiap dedaunan berbicara tentang kebahagiaan kepadaku Melambai-lambai dari pepohonan musim gugur. Aku akan tersenyum saat lingkaran salju Bermekaran di tempat bunga mawar tumbuh Aku akan berlagu saat malam luruh Mengantarkan hari yang semakin suram

Ah! Mengapa, Karena Matahari Menyilaukan

Ah! Mengapa, Karena Matahari Menyilaukan           puisi Emily Bronte Ah! mengapa, karena sinar mentari yang menyilaukan Memulihkan bumiku dalam sukacita Sudahkah engkau berangkat, kalian semuanya, Dan meninggalkan langit gurun? Sepanjang malam, matamu yang mulia Menatap ke dalam mataku, Dan dengan desahan hati penuh rasa syukur Aku terberkati oleh pandangan ilahiah itu! Aku dalam kedamaian, dan mereguk minumanmu Sebab mereka adalah kehidupan bagiku Dan bersukaria dengan mimpiku yang berubah-ubah Laksana burung-burung laut di laut. Pikiran demi pikiran - bintang demi bintang Melewati wilayah tak terbatas, Sementara satu pengaruh yang manis, dekat dan jauh, Berjalan menggairahkan dan membuktikan kita satu, Mengapa pagi hari terbit hingga pecah Mantra yang begitu hebat dan murni, Dan menghanguskan mulut yang tenang Tempat jatuhnya pancaran sinarmu yang sejuk Semerah darah dia bangkit, dan panahnya lurus, Seberkas cahyanya yang ganas menerpa alisku; Jiwa alam melon...

Selepas Mengantar Ayah

Selepas Mengantar Ayah          Sajak Zawawi (1) aku lalui juga kelak-kelok rute perbukitan turun ke rerimbun rumpun bambu dan pohon-pohon randu genang kenang Sungai Kening tenang seolah madu mengalir ke taman istirahmu doa atau dosa yang kutabur bersama bunga atas masa-masa yang telah sirna taken from google (2) sepertiku kau lewati juga kelak-kelok rute kehidupan jatuh ke rerimbun rumpun kepedihan genang sungai kenang tetes seolah deras hujan mengalir dari mata-mata hatimu aku melihat musim masih seperti sediakala dan matahari pun terbit dari arahnya “kini aku reranting kering cuklek tergolek terpejam terbanting di ranjang,” sedu hatimu 'memang tak mudah, bukan melupakan yang pernah dominan?”, hiburku seolah tak ada kehilangan pun tak ada kegetiran aku ingat suatu saat “aku harus kuat,” katamu tegar seperti tlah mengakar di kekar tekatmu ada suara-suara mungkin serupa puja-puji di dalam sini yang seharusnya tak musti lalu, “sampai jumpa,” kau berkata mengakhir...