Langsung ke konten utama

Jiwa Sebaya

virginia woolf

suatu ketika di saat kami masih bisa tertawa bersama, kami sekawanan (eits...sekawanan domba tersesat, eh lapar) bertandang ke rumah seorang kawan yang sedang berbahagia, dikarunia seorang putra kedua. 


kami pun disambut tuan rumah, kawan kami itu. setelah dipersilahkan duduk, kami pun mengambil tempat masing-masing di atas karpet yang digelar di ruang tamu, mengelilingi sajian yang sudah tertata di ruang tersebut (seingat saya tidak ada biskuit khong guan 😀).


belum jenak kami duduk, tiba-tiba dari ruang dalam berjalan ke arah kami sekawanan, seorang batita imut dan lucu, putra sulung tuan rumah, kawan kami itu. terlihat belum tegak benar si imut dan lucu ini dalam berjalan. setelah mendekat, dia memandangi kami, hampir satu persatu dengan mimik seperti bingung.


hampir kami semua sekawanan domba lapar ini mengulurkan kedua tangan untuk menyambutnya, barangkali ingin memeluk, ingin menggendong, ingin nyuwol pipinya, atau sekedar ber ci luk ba dengannya. dan melihat kami semua mengulurkan tangan, terlihat bertambah bingunglah dia. tak berapa lama setelah dia memandangi kami sekali lagi  lalu dia seperti mantab melangkah ke arah salah seorang dari kami. 


dengan senyum lebar, merasa menang dalam "kompetisi" dadakan mengulurkan tangan, memikat batita lucu dalam dekapan, kawan kami yang pemenang ini pun memeluknya, kemudian memangkunya, kami pun lepas dalam tawa, entah komentar apa saja yang keluar dari kami sekawanan.


masih dalam senyum kemenangan dengan memangku si piala, lalu keluarlah kata-kata "nyombongnya".


"nah iya kan, dia itu tahu siapa yang paling berjiwa murni."


kami pun ramai oleh tawa, cemooh, nada protes, dan suara-suara ketidakberterimaan pada pernyataannya.


"nggak yo, dia itu lebih ngerti pada yang (berjiwa) sebaya."


tiba-tiba salah seorang dari kami sekawanan (sumpah bukan saya) menimpalinya. lalu meledaklah kami semua dalam tawa. barangkali pengeluaran energi tawa yang sepadan sebelum menandaskan sate, gule dan kawan-kawannya. 


kami memang jiwa kanak-kanak yang mrmbimbing anak-anak, yang selalu berbicara seperti telah dewasa namun bertingkah seolah tak pernah dewasa-dewasa. barangkali seperti kata si marsha, kawan si the bear, orang dewasa adalah anak-anak yang berada  di tubuh orang besar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala

Antara Mentari dan Asap: Membaca Andien Aisyah dan Tarunala Tidak semua orang meninggalkan dengan cara yang sama. Tidak semua yang berjalan, benar-benar telah sampai. Ada yang melangkah di bawah mentari—hangat, terang, seolah dunia telah kembali utuh. Ada juga yang duduk dalam remang, membiarkan secangkir kopi mendingin di tangan, sementara asap rokok perlahan naik, membawa sesuatu yang tidak pernah benar-benar hilang. Andien Aisyah source of the pict: https://www.instagram.com/ukiebungin?igsh=MWc5MjRmd29vajZwZQ== Di antara dua suasana itu, saya menemukan dua cara memahami “move on”. Dalam lagu-lagu Andien Aisyah, “move on” terdengar seperti sesuatu yang telah selesai. Sebuah ruang yang sudah bersih dari bayangan. “Tiada lagi bayangan dirimu Yang s’lalu mencoba menahanku” Ada kelegaan di sana. Seperti seseorang yang akhirnya membuka jendela setelah hujan panjang, dan mendapati cahaya masuk tanpa ragu. Ia bernyanyi, ia menari, ia berjalan. “Bersama mentari, ku bernyanyi ...

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita

Saat Fajar, Alam Bawah Sadar Menyeruak Bercerita Catatan Membaca "Ariel" karya Sylvia Plath "Puisi tidak meminta untuk dijelaskan. Ia hanya meminta dibaca dengan sabar." Sylvia Plath Saya tidak tahu apakah pembacaan saya atas Ariel adalah pembacaan yang tepat. Mungkin tidak. Puisi besar tidak pernah tunduk pada satu tafsir. Ia terus membuka pintu-pintu baru setiap kali dibaca. Tulisan ini bukanlah usaha menjelaskan Sylvia Plath, melainkan catatan seorang pembaca yang perlahan diajak berjalan oleh sebuah puisi. Bagi saya, Ariel tidak dimulai sebagai puisi tentang kematian. Yang pertama kali saya lihat justru seorang perempuan yang berada di pedesaan Devon menjelang fajar. Dunia masih membeku dalam kegelapan. Perlahan langit mulai membiru, tetapi biru itu belum menjadi langit yang utuh. Ia masih seperti sesuatu yang tak berwujud, sesuatu yang ghaib, yang mengalir dari balik tor—bukit-bukit batu granit yang menjulang di kejauhan. Pada tiga baris pertama itu saya tidak ...