Langsung ke konten utama

Taman Baca

[source pict taken from Madu's FB]

telah aku bangun sebuah taman baca sederhana dengan pintu dan jendela kerap terbuka yang sesiapa dengan mudah membuka dan singgah di dalamnya. kerap juga ada yang membuka dengan paksa ketika pintu tak terbuka meski tanpa ijinku. aku hanya merasa prihatin karena dengan cara paksa ini dapat mendatangkan kesedihan. 


entah mengapa mereka begitu  ngotot ingin menyinggahinya. hingga ada yang membuka paksa pintunya  entah mengapa mereka suka membaca buku-buku koleksiku yang tak begitu banyak. hanya buku-buku tentang keinginan-keinginan, mimpi-mimpi, dan melankoli, barangkali juga tentang dendam dan kebencian juga kesedihan-kesedihan atau juga rasa suka yang tak semestinya dan juga rasa rindu yang tak pernah usai menjadi hantu. 


namun demikian aku tetap merasa senang dengan taman baca yang aku bangun ini dapat menjadi puisi yang dicipta penyair sehabis menyinggahinya, dapat memunculkan para pahlawan dalam komunitasnya, barangkali juga menjadi status-status untuk menghibur, barangkali juga mendatangkan kompensasi yang menyinggahi. dan masih ada yang kerap datang dan kerasan bermain-main di dalamnya. aku tahu mereka. sampai saat ini bangunan taman baca itu masih aku rawat dan masih kokoh berdiri dalam kepalaku. 



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cerpen Hamsad Rangkuti: Panggilan Rasul

Panggilan Rasul Oleh: Hamsad Rangkuti MENITIK AIR mata anak sunatan itu ketika jarum bius yang pertama menusuk kulit yang segera akan dipotong. Lambat-lambat obat bius yang didesakkan dokter sepesialis dari dalam tabung injeksi menggembung di sana. Dan anak sunatan itu menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan sakit yang perih, sementara dagunya ditarik ke atas oleh pakciknya, agar ia tidak melihat kecekatan tangan dokter spesialis itu menukar-nukar alat bedah yang sudah beigut sering dipraktikkan. Kemudian kecemasan makin jelas tergores di wajah anak sunatan itu. Dia mulai gelisah.           Di sekeliling pembaringan-dalam cemas yang mendalam-satu rumpun keluarga anak sunatan itu uterus menancapkan mata mereka kea rah yang sama; keseluruhannya tidak beda sebuah lingkaran di mana dokter dan anak lelaki itu sebagai sumbu. Mereka semua masih bermata redup. Kelelahan semalam suntuk melayani tetamu yang membanjiri tiga ter...

Cerpen Hamsad Rangkuti: Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu?

Maukah Kau Menghapus Bekas Bibirnya di Bibirku dengan Bibirmu? Cerpen Hamsad Rangkuti Seorang wanita muda dalam sikap yang mencurigakan berdiri di pinggir geladak sambil memegang terali kapal. Dia tampak sedang bersiap-siap hendak melakukan upacara bunuh diri, melompat dari lantai kapal itu. Baru saja ada di antara anak buah kapal berusaha mendekatinya, mencoba mencegah perbuatan nekat itu, tetapi wanita muda itu mengancam akan segera terjun kalau sampai anak buah kapal itu mendekat. Dengan dalih agar bisa memotretnya dalam posisi sempurna, kudekati dia samil membawa kamera. Aku berhasil memperpendek jarak dengannnya, sehingga tegur sapa di antara kami, bisa terdengar. “Tolong ceritakan mengapa kau ingin bunuh diri?” Dia berpaling kea rah laut. Ada pulau di kejauhan. Mungkin impian yang patah sudah tidak mungkin direkat. “Tolong ceritakan. Biar ada bahan untuk kutulis.” Wanita itu membiarkan sekelilingnya. Angin mempermainkan ujung rambutnya. Mempermaink...

The Wound of Sorrow

 the Wound of Sorrow                  by Zawawi In the Name of Yours I proposed to you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Fight for life Aren’t we Old friends Humming happily Since childhood Reaching for red and blue dragonflies Twisting flirtatiously in the thick grass Aren’t we A cheerful couple Combing along the edge of the river Admiring small shrimps Dancing on the white sand Aren’t we A naughty couple Splashing In shallow puddles Leftover from yesterday's heavy rain In your name I beg you When dusk creeps dark Birds' flaps return to their nests And when nocturnal animals Shake off daydreams Seize life