(Thanding Sari) ~ Dya ~ duduk bertiga berpayung merah muda berbagi cerita di rinai gerimis senja diantara lalu lalang dan gelak tawa di taman sederhana universitas kita ah, kenapa tidak pergi saja berteduh di teras universitas menawar angin dan dingin yang membelai senja pintaku yang tak pernah terucap lalu tak sengaja kita pun beradu mata kau sibakkan hitam gelombang mahkota sepanjang pinggang tanpa senyum tanpa kata hanya mata berbagi cita di tatapan senja dalam dudukmu berpayung merah muda dalam berdiriku di bawah sebuah pohon yang entah di rinai gerimis senja aku mendekat menatap dengan getar ragu di dada kau sebut sebuah doa dalam jabat kita setelah kusebut pertanda lalu, kita pun melangkah dari mula saling menyelami senja di riuh lukaduka Dya, bukankah selalu saja kita melangkah dari mula? karena lukaduka itu selalu menghapus jejak langkah kita menuju biduk selaksa ombak menghapus setiap jejak kayuh dari nahkoda cinta cemaskan kibaran layar setia